
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memaparkan langkah Kementerian Agama dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Ia menegaskan Ramadan harus menjadi momentum penguatan ibadah yang dibarengi empati dan solidaritas sosial lintas masyarakat.
Menag meminta seluruh jajaran Kemenag menggerakkan rumah ibadah, khususnya masjid di jalur mudik, agar menjadi “oase kemanusiaan” yang memberi kenyamanan bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
“Kami mengimbau daerah-daerah yang dilalui para pemudik, ada sekitar 6.000 masjid di seluruh Indonesia, agar pada hari-hari tertentu, baik mudik nasional maupun mudik keagamaan, dibuka,” ujar Menag saat memberikan pembinaan ASN di Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, Senin (9/2).
Ia bahkan mendorong pengurus masjid tidak hanya membuka pintu, tetapi juga menyediakan takjil atau buka puasa bagi pemudik yang singgah.
“Kalau perlu pada mudik Lebaran nanti, pengurus masjid bukan saja membuka pintunya, tetapi juga memberikan buka puasa bagi jamaah yang mungkin mampir,” tambahnya.
Kegiatan pembinaan ASN tersebut dihadiri jajaran pimpinan ASN dan tokoh agama lintas iman. Turut mendampingi Menag, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid.
Oase kemanusiaan dan esensi agama
Dalam arahannya, Menag menekankan bahwa esensi agama adalah mencintai sesama. Prinsip kemanusiaan universal harus menjadi fondasi dalam memberikan bantuan sosial, terutama di bulan suci.
“Jangan melihat agamanya orang yang kehausan dan kelaparan. Agama apa pun yang sedang kelaparan, beri makan. Allah memuliakan anak cucu Adam, bukan hanya kelompok tertentu. Siapa pun, apa pun agamanya, etniknya, warna kulitnya, beri bantuan,” tegasnya.
Menag juga mengajak umat beragama saling menghargai ruang publik. Ia mengimbau pengelola pusat perbelanjaan menyediakan fasilitas ibadah yang layak serta menciptakan suasana yang kondusif bagi masyarakat yang menjalankan puasa.
“Saya mohon kepada pimpinan umat beragama, mari kita bersosialisasi untuk hal-hal positif. Jadikan agama sebagai motivasi untuk mencintai orang lain meskipun berbeda agama. Itulah wujud keberagamaan yang sejati,” ujarnya.
Menutup arahannya, Menag berharap Sulawesi Selatan dapat menjadi percontohan nasional dalam memadukan kearifan lokal dengan nilai-nilai universal agama.
Ia mengajak seluruh pihak mewujudkan ajaran agama dengan cara yang santun dan penuh kasih demi menjaga wibawa agama di mata dunia. (*/S-01)







