Waduh! Angka Gangguan Jiwa pada Anak dan Remaja di Jabar Naik

GANGGUAN gangguan kejiwaan pada anak dan remaja di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Rumah sakit Jiwa (RSJ) Cisarua Jabar mencatat, jumlah pasien anak dan remaja yang mengakses layanan kesehatan jiwa naik dan kasus yang ditangani juga semakin beragam, mulai dari gangguan perkembangan hingga depresi.

Dengan rata-rata jumlah pasien yang datang ke poliklinik psikiatri kini mencapai sekitar 30 orang per hari

“Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar di angka 20 pasien per hari, dengan beragam variasi kasus.

Depresi

Pasien yang ditangani mencakup gangguan perkembangan seperti autisme dan disabilitas intelektual, hingga gangguan mental emosional seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian.

“Dari total pasien anak dan remaja tersebut, sekitar 20 hingga 30 persen di antaranya mengalami depresi. Mayoritas pasien depresi berasal dari kelompok usia remaja, yakni rentang 10 hingga 18 tahun,” ungkap Subspesialis Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Cisarua, dr. Lina Budiyanti.

BACA JUGA  BI Dukung Perumusan Pembangunan Jawa Barat Bagian Selatan

Menurut Lina, faktor pemicu depresi pada remaja umumnya bersifat kompleks. Namun, relasi dengan teman sebaya menjadi stressor paling dominan yang ditemukan dalam praktik layanan di poliklinik.

Masalah pertemanan menjadi faktor utama, bisa karena perundungan, bisa juga karena perasaan berbeda dengan teman-temannya, meskipun secara objektif lingkungannya tidak selalu buruk.

Sulit berinteraksi

Sebagian remaja merasa dirinya lebih rendah dibandingkan teman sebayanya, mengalami kesulitan berinteraksi sosial, atau merasa tidak diterima, meski tidak selalu ada tindakan bullying secara langsung.

“Selain faktor pertemanan, adanya kontribusi faktor keluarga dan penggunaan gawai, termasuk media sosial, terhadap meningkatnya kasus depresi pada anak dan remaja.”

“Penggunaan gawai bisa berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung. Anak-anak yang sejak kecil lebih banyak difasilitasi dengan gadget cenderung kurang terlatih berinteraksi sosial secara langsung,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Lina, membuat anak kesulitan membangun keterampilan sosial saat memasuki fase remaja. Ketika mengalami masalah dalam pergaulan, sebagian anak justru kembali melarikan diri ke dunia digital, yang pada akhirnya dapat memperberat kondisi mental.

BACA JUGA  Komisi Dakwah MUI masih Kaji Alat Kontrasepsi untuk Remaja

Paparan Medsos

Selain itu, paparan media sosial juga memicu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, sehingga remaja merasa kehidupannya lebih buruk dibandingkan gambaran ideal yang ditampilkan di dunia maya.

“Dalam menangani kasus depresi pada anak dan remaja, kami menerapkan pendekatan biopsikososial. Pendekatan ini mencakup aspek biologis, psikologis, dan lingkungan sosial secara terpadu.”

“Kalau depresinya sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, seperti menarik diri, konflik dengan keluarga atau tidak mau sekolah, maka bisa diberikan terapi biologis berupa obat sesuai indikasi medis,” tuturnya.

Selain itu tambah Lina, intervensi psikologis dilakukan melalui psikoterapi atau konseling untuk memperbaiki pola pikir negatif dan kemampuan pemecahan masalah. Sementara dari sisi sosial, rumah sakit juga melibatkan keluarga dan sekolah dalam proses penanganan.

BACA JUGA  Ridwan Kamil Resmi Digugat Cerai Atalia Praratya

Pola asuh

Keterlibatan keluarga dan sekolah sangat penting agar lingkungan anak bisa lebih kondusif dan suportif. Terkait pencegahan, bahwa depresi pada anak dan remaja sangat mungkin dicegah.

Upaya tersebut, harus dimulai sejak dini melalui pola asuh yang sehat di lingkungan keluarga. Pola asuh sejak awal kehidupan menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental anak. Orang tua juga perlu peka terhadap perubahan emosi dan perilaku anak.

“Kami mendorong orang tua dan guru untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa serta menghilangkan stigma terhadap konsultasi psikologis.”

“Konsultasi tidak selalu berujung pada diagnosis atau pemberian obat. Dengan konsultasi lebih dini, masalah bisa dikenali lebih cepat dan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat,” tutupnya. (zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

KAPOLRES Sidoarjo Kombes Dr Christian Tobing meraih penghargaan sebagai Tokoh Pelayanan Publik dan Kemitraan Media dalam ajang IJTI Awards 2026. Apresiasi tingkat nasional dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat…

Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai 411 Orang

KASUS keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah terus bertambah. Informasi terakhir, per Kamis (25/9/2026) sore, Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat ada 411 orang jadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

  • September 24, 2026
Gagas Sistem Transparansi MBG, Kapolresta Sidoarjo Raih Penghargaan

DJP Jatim II Serahkan Tersangka Pidana Pajak ke Kejari Sidoarjo

  • September 24, 2026
DJP Jatim II Serahkan Tersangka Pidana Pajak ke Kejari Sidoarjo

Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai 411 Orang

  • September 24, 2026
Korban Keracunan Menu MBG di Batang Capai  411 Orang

Bulu Tangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia

  • September 24, 2026
Bulu Tangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia

Mahasiswa UPI Sumbang Perak untuk Indonesia di Asian Games 2026

  • September 24, 2026
Mahasiswa UPI  Sumbang Perak untuk Indonesia di Asian Games 2026

Tim Mahasiswa UGM Raih Juara 1 Kategori Esai Ilmiah di IPB

  • September 24, 2026
Tim Mahasiswa UGM Raih Juara 1 Kategori Esai Ilmiah di IPB