KLH Gandeng ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesiapsiagaan serta penegakan hukum, guna mencegah bencana tanah longsor yang lebih parah di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Langkah tersebut diambil menyusul terjadinya sejumlah peristiwa longsor yang melanda kawasan tersebut.

Terakhir, longsor tercatat terjadi di Kampung Pasir Kuning Babakan dan Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua serta di Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, pada Sabtu (24/1). Peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah pusat mengingat kawasan tersebut merupakan daerah dengan tingkat kerawanan longsor yang tinggi.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani di Kampus ITB Kamis (29/1) menegaskan bahwa kementeriannya tidak hanya berfokus pada penanganan dampak pascabencana, tetapi juga upaya pencegahan melalui pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran.

Pengawasan intensif

BPBD Garut mengirimkan personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) untuk mendukung pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mengirimkan personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) untuk mendukung aksi pencarian dan pertolongan (SAR) korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1/2026).
(Dok. BPBD Kabupaten Garut)

“Kami sedang melakukan pengawasan intensif di lokasi-lokasi yang memiliki tingkat risiko tinggi. Jika ditemukan pelanggaran, baik terkait tata ruang maupun aktivitas pembangunan yang berpotensi meningkatkan kerawanan bencana, kami akan menindak tegas sesuai peraturan yang berlaku,” ungkapnya.

BACA JUGA  Hari Ke-12 Operasi, Basarnas Maksimalkan Penggunaan Alat Berat dan K9

Rasio menjelaskan, pendekatan serupa telah dilakukan KLH pada tahun sebelumnya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang mencakup Bekasi, Bogor dan Jakarta. Selain penegakan hukum, KLH juga menggandeng kalangan akademisi untuk memperkuat dasar ilmiah dalam penanganan bencana.

Dalam upaya tersebut, KLH bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan kajian lanskap di wilayah terdampak longsor. Kajian ini dipimpin oleh Pakar Geologi Longsoran ITB, Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, yang bertugas menilai tingkat risiko bencana serta menyusun strategi mitigasi yang tepat dan berkelanjutan.

“Pengawasan ini juga melibatkan kementerian dan lembaga lain, terutama di wilayah yang sedang mengalami pembangunan cukup masif. Tujuannya memastikan kepatuhan terhadap rencana tata ruang serta menekan peningkatan risiko bencana yang dipicu oleh perubahan iklim,” jelasnya.

BACA JUGA  Akulturasa ITB Hadirkan Kolaborasi Sains, Seni, dan Budaya

Prioritas kajian

longsor susulan bisa terjadi di pasirlangu kabupaten bandung barat
Tim SAR berjibaku melakukan evakuasi korban longsor. (Dok/Basarnas)

Menurut Rasio, KLH juga telah mengidentifikasi sejumlah wilayah rawan lainnya sebagai prioritas kajian dan pengawasan, di antaranya DAS Citarum dan DAS Ciliwung di Jawa Barat, serta beberapa lokasi di Jawa Tengah dan Bali.

“Berdasarkan hasil asesmen lingkungan, KLH akan menyiapkan rekomendasi yang mencakup penyesuaian tata ruang, langkah-langkah pencegahan bencana, pengawasan berkelanjutan, hingga penindakan terhadap pihak-pihak yang melanggar ketentuan,” tuturnya.

Rasio berharap, melalui langkah terpadu tersebut, risiko bencana tanah longsor dapat diminimalkan, sementara aktivitas pembangunan tetap dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku, tanpa mengabaikan aspek keselamatan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.

“Langkah terpadu tersebut, risiko bencana tanah longsor dapat diminimalkan, sementara aktivitas pembangunan tetap dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku,” sambungnya.

BACA JUGA  7.671 Mahasiswa Baru ITB Siap Mengikuti Perkuliahan

Kondisi geologi dan lingkungan

Sementara itu, Pakar Geologi Longsoran ITB, Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa longsor memiliki berbagai jenis dan dapat terjadi di mana saja, tergantung kondisi geologi dan lingkungan. Longsor itu banyak jenisnya. Yang terjadi di Cisarua merupakan longsor jenis aliran atau aliran lumpur.

“Longsor jenis aliran biasanya berasal dari material di wilayah yang lebih tinggi dan bergerak cepat ke bawah saat dipicu hujan lebat. Yang terdampak biasanya kaget karena berada di jalur aliran material. Aliran ini bisa membawa lumpur, batu, hingga pohon ke wilayah permukiman,” tandasnya. (Zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyoroti dilema dan ketidakadilan yang dihadapi insan pers di tengah perkembangan media sosial. Di satu sisi, jurnalis dituntut menjunjung tinggi etika, kebenaran, dan independensi.…

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

INDONESIA menghadapi beban dengue yang masih tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

  • October 29, 2026
Silmy Karim Didakwa  Terima Rp1,2 Miliar dari Memeras WNA

Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

  • October 29, 2026
Beri Bonus untuk Atlet dan Pelatih, Presiden Ucapkan Terima kasih

Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

  • October 29, 2026
Cegah Tabrak Belakang, Polda Jateng Tempeli Truk Stiker Reflektif

Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

  • October 29, 2026
Dilema Pers di Mata KDM; antara Biaya Produksi dan Kebebasan Tanpa Etika

Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

  • October 29, 2026
Kembangkan AI, Indosat Andalkan Kekuatan Bisnis Telekomunikasi

Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue

  • October 29, 2026
Luncurkan Proyek SHIELD, UGM Kaji Wolbachia dalam Pengendalian Dengue