
UNIVERSITAS Diponegoro (UNDIP) mengawali rangkaian pengukuhan 18 Guru Besar pada akhir Januari 2026. Prosesi berlangsung di Gedung Prof. Sudarto, S.H., Kampus UNDIP Tembalang.
Pada sesi pertama, empat Guru Besar dari bidang kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tata kelola korporasi resmi dikukuhkan. Keempatnya dinilai memiliki kontribusi strategis dalam menjawab tantangan nasional dan global.
Mereka adalah Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K) dari Fakultas Kedokteran; Prof. Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis; Prof. Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat; serta Prof. Dr. Ir. Purwanto, M.T., M.Eng dari Fakultas Teknik.
Ketua Senat Akademik UNDIP, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar menjadi indikator peningkatan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saat ini, UNDIP memiliki 248 Guru Besar aktif, terdiri atas 244 Guru Besar Tetap dan empat Guru Besar Tidak Tetap.
“Gelar Guru Besar bukan sekadar pengakuan akademik, tetapi juga tanggung jawab moral dan intelektual untuk mengembangkan serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan masyarakat dan kemajuan bangsa,” ujarnya, Selasa (27/1).
Empat guru besar dikukuhkan
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU., yang turut hadir, menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan peneguhan tanggung jawab besar dalam mendorong kemajuan negara. Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi pusat solusi berbasis riset, inovasi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Yan Wisnu Prajoko memaparkan riset tentang kanker payudara usia muda di Indonesia melalui pendekatan genetic profiling, khususnya terkait mutasi PIK3CA. Pendekatan multidisiplin tersebut diharapkan mampu menekan angka kasus stadium lanjut dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Prof. Darsono mengangkat tantangan audit dalam meningkatkan kualitas laporan perusahaan di era keberlanjutan. Ia menekankan pentingnya peran auditor independen dalam memverifikasi laporan ESG untuk mencegah praktik greenwashing, melalui penerapan standar ISSA 5000 serta IFRS S1 dan S2.
Pembangunan berkelanjutan
Sementara itu, Prof. Budiyono menyoroti dampak paparan pestisida terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak. Ia menawarkan solusi melalui pemanfaatan teknologi ozon untuk mengurangi residu pestisida serta mendorong transisi menuju pertanian organik berkelanjutan.
Dari bidang teknik, Prof. Purwanto mempresentasikan inovasi beton geopolimer ramah lingkungan berbasis limbah fly ash dan bottom ash. Inovasi tersebut dinilai mampu memperkuat struktur bangunan dan jembatan secara ekonomis sekaligus mendukung pembangunan konstruksi berkelanjutan.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengapresiasi capaian para Guru Besar baru dan menegaskan bahwa Guru Besar merupakan role model akademik yang diharapkan mampu menghadirkan ilmu pengetahuan berdampak nyata bagi masyarakat. (Htm/S-01)







