
PEMERINTAH Kota Bandung terpaksa kembali menutup sementara kawasan Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi (Baksil) dan Alun-alun Bandung guna perbaikan. Hal itu menyusul evaluasi terhadap kapasitas, keselamatan dan kesiapan fasilitas publik.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada warga dan wisatawan atas ketidaknyamanan yang terjadi.
“Saya harus minta maaf. Promosinya lebih bagus daripada kenyataannya,” ungkapnya Rabu (7/1).
Farhan mengakui, kedua fasilitas tersebut dibuka dan dipromosikan saat kapasitasnya belum sepenuhnya siap, sehingga terjadi ketimpangan antara daya tampung dan jumlah pengunjung.
Standar keselamatan

“Kapasitas baru sekitar 65 persen, tapi yang datang 100 persen. Itu yang menimbulkan kejadian yang tidak perlu,” tuturnya.
Farhan mengakui, prinsip pengelolaan fasilitas publik harus mengacu pada standar keselamatan dan kenyamanan maksimal. “Kalau potensi 10 ribu orang, kapasitas harus 11 ribu. Bukan sebaliknya,” ucapnya.
Sementara itu khusus untuk memperbaiki dan melanjutkan revitalisasi Baksil, Pemkot Bandung melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung telah menyiapkan anggaran Rp 3,5 miliar. Revitalisasi tersebut bakal meliputi perbaikan beberapa fasilitas, termasuk forest walk.
Belum diperbaiki
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota pada DPKP Kota Bandung Yuli Ekadiyanti mengklarifikasi bahwa Baksil sudah mengalami kerusakan, padahal baru dibuka lagi setelah direvitalisasi.
“Saya klarifikasi itu tidak benar sebab bagian yang rusak di pelataran forest walk memang belum tersentuh perbaikan pada revitalisasi tahap pertama. Itu akan dilakukan pada 2026 ini, jadi memang pekerjaannya baru di area depan,” terangnya.
Menurut Yuli, dengan anggaran Rp3 miliar pada 2025, revitalisasi Baksil belum menyeluruh. Pembenahan yang dilakukan baru meliputi pembuatan gerbang, pembatas hutan kota dengan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dan perbaikan beberapa fasilitas lain.
Jadi DPKP bikin penanda untuk akses masuk ke Baksil. Kemudian juga ada pembatas antara TPST dengan Hutan Kota. Setelah itu, pihaknya juga ada perbaikan untuk fasilitas musala, toilet dan kolam air yang di samping.
Sudah dianggarkan
“Pada 2025 kami juga memperbaiki kirmir di Baksil, karena kondisinya yang terancam mengalami longsor. Di samping itu, DPKP juga membangun tempat bermain anak dan melakukan penambahan lampu biar tak terlalu gelap saat malam hari,” terangnya.
Yuli menambahkan di tahun 2026 ini memang sudah dianggarkan kembali untuk dikerjakan di tahap kedua. Jadi bukan habis direvitalisasi langsung rusak, tapi memang belum tersentuh.
Pelataran forest walk ini berbahan kayu, yang memang sejak dibangun di era Pak Ridwan Kamil itu belum pernah ada perbaikan. (zahra/N-01)







