Mengembalikan Politik Bebas Aktif Indonesia

SEBAGAI salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia dan jumlah penduduk Muslim terbesar, sejatinya Indonesia punya posisi tawar yang tinggi. Ditambah lagi dengan posisinya yang strategis.

Dengan semua kelebihan tersebut boleh dibilang Indonesia potensi yang sangat besar. Tidak mengherankan jika begitu banyak kekuatan dunia yang mencoba mendekati negara ini sejak dulu, termasuk Rusia.

Sayangnya, selama itu potensi itu belum digarap dengan baik. Padahal dengan politik bebas aktifnya, Indonesia sebenarnya bisa berperan lebih besar lagi.

Kebijakan itulah yang sepertinya coba dikembalikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Di bawah pemerintahannya, Indonesia memang seperti tidak lagi mau hanya terikat atau bekerja sama pada satu kubu tetapi bebas kemana saja.

Jika sebelumnya, kebijakan politik luar negeri Indonesia tidak terlalu nampak,– tetapi condong ke Barat–, tetapi kini tidak lagi. Hal itu bisa dilihat dari kunjungan Presiden Prabowo ke negara-negara yang selama ini dianggap bersebrangan dengan Barat, salah satunya adalah Rusia.

Dua kali

Tercatat, dua kali sudah Presiden Prabowo menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin. Setelah sebelumnya bertemu di St. Petersburg pada 18–20 Juni silam, Prabowo kembali menemui Putin di Kremlin pada Rabu (10/12/2025) lalu.

BACA JUGA  Putin Komentari Serangan Ukraina ke Wilayah Kursk

Ketika sebagian pemimpin dunia lainnya menjauhi atau takut bertemu Putin akibat perang di Ukraina, Prabowo bahkan tidak ragu untuk menemuinya. Hal itu pada akhirnya memang memunculkan tafsir bahwa politik luar negeri Indonesia kini cenderung ke Timur.

Apalagi selain Rusia, hubungan Indonesia dengan China belakangan makin rapat. Hal itu bisa dilihat dari kerja saja kedua negara yang makin masif, baik itu dalam perdagangan, maupun kerjas sama di sejumlah bidang.

Padahal sejatinya apa yang dilakukan Prabowo itu tidak demikian–bukan condong ke timur, red–. Ia hanya mencoba mengembalikan atau menegakan kembali politik bebas aktif Indonesia.

Persenjataan Indonesia

Pasalnya, sejak runtuhnya Orde Lama, politik luar negeri kita cenderung ke Barat, meski tetap mengklaim politik bebas aktif. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari berbagai arsenal yang dimiliki Indonesia.

Berbagai persenjataan warisan Orde Lama yang didapat dari Uni Soviet pelan-pelan mulai digantikan persenjataan Barat pada masa Orde Baru. Baru pada awal 2000-an Indonesia ‘berani’ lagi membeli senjata dari Rusia, tepatnya pesawat tempur Su-27 dan Su-30, serta helikopter. Tetapi keputusan itu pun dilakukan dalam kondisi terpaksa lantaran Indonesia ketika itu diembargo Amerika Serikat menyusul insiden di Timor Timur (saat ini Timor Leste).

BACA JUGA  Konflik dengan Iran, AS Mau Cabut Sanksi Minyak Rusia

Akibatnya ketika itu kekuatan tempur Indonesia sangat memprihatinkan. Barulah pemerintah terpaksa kembali melirik ke Rusia.

Sayangnya, setelah itu hubungan Indonesia-Rusia kembali seperti menjauh. Bahkan rencana Indonesia untuk membeli 11 unit Sukhoi Su-35 dari Rusia senilai US$1,14 miliar harus tertunda akibat ancaman sanksi AS di bawah aturan CAATSA. Kondisi itu pula yang membuat Indonesia akhirnya beralih ke pesawat lain yakni Rafale.

Butuh sekutu

Di sisi lain, sebagai pewaris utama Uni Soviet, sejatinya Rusia adalah negara besar. Masalahnya adalah dalam perubahan tatanan dunia yang begitu cepat, Rusia membutuhkan validasi agar tetap dianggap besar.

Untuk itu mereka membutuhkan banyak sekutu agar tetap dihormati, utamanya untuk meredam dominasi Amerika Serikat. Untuk itulah mereka membuat berbagai aliansi dengan negara-negara netral atau negara yang tidak mau tunduk di bawah ketiak Barat.

BACA JUGA  Korut Kirim Ribuan Tentara untuk Bantu Rusia

Kendati sudah bersahabat dengan China, Iran, ataupun India, Rusia tentu saja masih membutuhkan negara besar lainnya, seperti Indonesia.

Juru momentum

Kedekatan atau hubungan baik dengan Rusia itu sebenarnya bisa menjadi momentum bagi Indonesia. Misalnya bisa saja menjadi juru damai dalam konflik dengan Ukraina.

Bukan itu saja, Indonesia juga bisa mengambil keuntungan yang lebih besar dengan dalam hubungan dengan Rusia. Bagaimana pun sebagai negara besar, Rusia punya banyak kelebihan. Indonesia bisa belajar banyak.

Apalagi Presiden Putin juga menunjukan kesediaannya untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan kesiapannya membantu Indonesia dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan akan mengirimkan tenaga ahli Rusia.

Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum itu. Bagaimana pun Rusia punya banyak kelebihan, selain industri pertahanan. Demikian juga Indonesia. Kedua negara bisa saling belajar. (N-01)

Oleh

Dosen Sastra Rusia Universitas Indonesia, Dr A. Fahrurodji.

Dimitry Ramadan

Related Posts

Pemerintah Siapkan Dana Rp4 triliun untuk Benahi Lintas Sebidang

PEMERINTAH akan menyiapkan anggaran sebesar Rp4 triliun untuk memperbaiki 1.800 titik perlintasan kereta api di Pulau Jawa guna meningkatkan keselamatan transportasi publik. Hal itu diungkapkan Presiden Prabowo Subianto seusai meninjau…

Berikut Nama-nama Korban Meninggal dalam Kecelakaan Kereta Api

SEDIKITNYA 15 jenazah korban kecelakaan KA Agro Bromo Anggrek dan Kereta Commuter Line RL di Stasiun Bekasi Timur telah teridentifikasi. Sebagian di rumah sakit (RS) Bekasi dan Jakarta. “Pada pukul…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

  • April 30, 2026
Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

  • April 30, 2026
Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

  • April 30, 2026
Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

  • April 30, 2026
Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia

  • April 30, 2026
Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia

Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC

  • April 30, 2026
Marc Klok Bertekad Bawa Persib Menangi Laga Kontra Bhayangkara FC