
DUSUN Beji yang berada di Kalurahan Sidoarum, Godean, Sleman dikenal sebagai satu-satunya kampung yang menjadi sentra kerajinan blangkon atau tutup kepala untuk busana tradisional Jawa.
Dusun Beji, yang memiliki belasan perajin blangkon, lebih banyak membuat blangkon gaya Yogyakarta atau Mataraman.
Kepiawaian membuat blangkon itu bermula dari Sumoprawiro, kakek moyang mereka yang telah menjadi pembuat blangkon sejak zaman Jepang dan kemudian dilanjutkan generasi ke generasi berikutnya, hingga sekarang.
Kehalusan dan kerapian blangkon buatan Beji ini sudah menjadi ciri khas dan penanda. Meski tidak ada label merek yang dipasang, namun bagi mereka yang terbiasa mengenakan blangkon akan dengan mudah merasakan blangkon buatan Beji atau bukan.
Pelanggan tetap
Salah satu bentuk pengakuan kualitas Blangkon Beji, Raffi Ahmad pernah memesan 275 blangkon dari Beji demikian pula Keraton Yogyakarta telah menjadi pelanggan tetap sejak masa Sri Sultan HB IX.
Harga blngkon produksi Beji ini bervariasi dari Rp75.000 per biji hingga jutaan rupiah tergantung dari kain batik yang menjadi bahan baku utama pembuatan blangkon.
Salah satu pembuat blangkon, Muhammad Khoirudin yang kini usianya sudah di atas 75 tahun membenarkan bahwa14 perajin blangkon di Beji hampir semuanya adalah keturunan Sumoprawiro.
“Saya sendiri mulai ikut membuat blangkon sejak usia 16 tahun, belajar langsung dari Pakde Sumoprawiro,” katanya.
Khoiruddin mengakui dirinya yang beberapa tahun lalu menerima pesanan blangkon dari utusannya Raffi Ahmad.
Pesanan daring
Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini pemasaran blangkon produksi Beji ini terbanyak untuk memenuhi permintaan pedagang di Pasar Beringharjo dan kemudian pesanan-pesanan lain dari orang-orang yang terbiasa mengenakan busana tradisional Jawa termasuk para abdi dalem, para dalang dan pelaku budaya lainnya.
Namun di tengah sempitnya pasar lokal, para perajin ini ternyata mampu membuka akses pasar yang lebih luas. Pesanan melalui daring terus meningkat dan masyarakat Jawa yang ada di sejumlah negara termasuk di Malaysia dan Suriname juga memesan blangkon dari tempat itu.
Perajin lainnya, Arif Sukarahmawan menjelaskan sekarang ini rata-rata perajin sudah menjual secara daring sehingga pasarannya makin meluas di luar Yogyakarta.
Masalah hak paten
Yang menjadi keprihatinannya, adalah soal regenerasi dan ketiadaan hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada produk blangkon Beji.
“HKI dan regenerasi adalah tantangan terbesar. Anak-anak muda belum tertarik terjun ke kerajinan ini,” tambahnya.
Kabid Usaha Mikro Dinas Koperasi UKM Sleman, Sri Wahyuni Budiningsih, mengatakan pemerintah setiap tahun sebenarnya menyediakan kuota HKI gratis bagi para pelaku usaha.
Namun, informasi tersebut belum tersampaikan secara luas karena tidak semua pelaku UMKM aktif mengikuti kanal informasi resmi pemerintah.
Generasi muda
“Selama ini yang paling cepat mengakses program HKI gratis adalah generasi muda karena mereka aktif di media sosial. Padahal kuotanya terbatas,” ungkap Sri Wahyuni.
Proses penerbitan HKI kini jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Dahulunya memerlukan waktu sekurangnya dua tahun, namun kini menjadi lebih cepat.Sri Wahyuni juga berharap para perajin ini memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan HKI. (AGT/N-01)







