Ruang Ngudarasa Seniman Plat K

SENIMAN rupa Plat K untuk ketiga kali menggelar perhelatan budaya di Jepara, Jawa Tengah.

Pameran Seni Rupa Plat K #3 ini berlangsung dari 29 November 2025 dan berakhir pada 1 Desember 2025. Berlokasi di sebuah Joglo Garuda Gung milik mantan bupati Jepara yang perduli akan seni budaya, yaitu Dian Kristiandi.

Dalam sambutan singkatnya, Andi– demikian sapaan akrab Dian Kristiandi–memang mempersilakan Joglo Garuda Gung sebagai ruang budaya untuk umum.

Maka ketika Budi Karya, perupa yang menjadi Koordinator Plat K (K merupakan penanda kendaraan bermotor wilayah Karesidenan Pati, Jawa Tengah) untuk wilayah Jepara, meminta izin menggelar pameran, disambut dengan tangan terbuka.

Budi Karya mengungkap, bahwa Plat K memang menggelar acara di desa-desa sebagai strategi kebudayaan. Yakni mendekatkan seni budaya langsung pada jantung masyarakat.

Bahkan pameran di desa bisa terpenuhi secara logistik dan apresiasi langsung dari berbagai kalangan dan usia.

“Pameran dan gelar budaya Plat K itu semangatnya rame-rame, seperti kajatan (kenduri) orang dulu dengan membawa ambengan (nasi lengkap dengan lauk-pauk) , tanpa berusaha mengintip ambengan punya teman. Analogi ini untuk menghargai teman bukan dari menilai karya, yang penting adalah bertemu dan bergembira bersama, ” tambah Imam Bucah Ketua Konsorsium Plat K.

Gelar Budaya dan Pameran Seni Rupa Plat K yang ketiga ini mengusung tema, Piwulang Angin, Gunung, Ombak Laut.

Brodin dalam kata pengantar katalog mengungkap bahwa belajar bukan lagi soal mengumpulkan infomasi untuk mencari kebenaran.

Alam dan kebijaksanaan

Namun yang lebih penting adalah menemukan kebijaksanaan. Alam menjadi sumber untuk belajar tentang kebijaksanaan, di utara kita ada laut, di tengah ada gunung, dan sawah ladang memberi pengalaman dan keterlibatan pada denyut nadi masyarakat lingkar Muria Raya. Sebagai personal maupun komunal.

BACA JUGA  Operasi Lilin Candi 2025, Polda Jateng Fokus Rasa Aman Nataru

Alam menjadi Guru, dimana hari-hari ini kita dipertontonkan kebohongan oleh para pengeruk kekayaan alam dengan semena mena, tapi alam punya bahasa kejujuran sendiri.

Berkubik-kubik kayu glondongan tumpah-ruah bersama air bah menyerbu di depan mata seolah ingin menunjukkan bahwa manusialah air bah pembawa kehancuran itu.

Pada Gelar Budaya plat K #3 kali ini , bukan hanya pameran seni rupa. Tersaji seni pertunjukan, baik tradisi maupun modern.

Kerinduan akan seni tradisi

Malam pembukaan dimeriahkan barongan budaya katresnan dari Jepara yang mengundang massa. Bahkan perupa Puji Rusmanto merasa terpanggil untuk ikut perfomance.

Kolaborasi ini cukup menjadikan bukti ikatan emosional akan kerinduan seni tradisi yang mungkin mulai jarang tampil di Jepara.

Kemudian pertunjukan disambung dua generasi terkecil Plat K , yaitu Kinanti, putri Wiwik, berkolaborasi dengan Sekar, putri perupa Citra Dwi Kurniawan.

Kinanti dan Sekar harmonis memadukan tari dan puisi dalam satu paket.

Penonton kemudian dihibur dengan lagu lagu campursari dari grup Gending Pahing oleh vokal Wiwik duet dengan MC kondang Jepara Didin.

Pertunjukan bergeser ke arena pelataran dengan musik eksperimental oleh Anton Setiawan dari Rumah Merdeka Pati.

Anton mengkritisi peralihan ritme dan pekerjaan orang-orang Jepara yang dulu terkenal sebagai pengukir dan tukang kayu, kini bergeser ke pabrik-pabrik yang mulai menjamur di Jepara.

Suara bising mesin, noise, dan pekak seolah menyambung dengan melodis slompret barongan di awal pertunjukan yang juga menyiratkan teriakan, dan suara pekak. Seolah ada keterikatan emosional dalam nada yang sama.

BACA JUGA  Danone Tunjukkan Keterlibatan Swasta dalam Akses Air Minum Bersih dan Berkualitas

Pada hari kedua diisi musik band Rock anak anak muda Jepara. Menemani penonton menikmati pameran seni rupa 6 kabupaten eks karesidenan Pati. Yaitu Jepara, Pati, Kudus, Rembang, Blora, dan Grobogan.

Masyarakat apresiasi karya seni

Puluhan karya hadir berbagai aliran dari karya lukis maupun patung. Rata rata mengusung tema budaya dan juga persoalan sosial mayarakat, bahkan spiritual.

Karya berbagai media dan ukuran ini menyita perhatian masyarakat sekitar desa Srobyong Monggo yang jarang sekali melihat pameran seni rupa.

Antusiasme dari berbagai usia menunjukkan bahwa masyarakat sangat mengapresiasi karya seni secara langsung. Di era dunia yang serba digital ini.

Generasi penerus Kentrung

Malam terakhir tak kalah seru. Mpu Palman Kids, sebuah grup kentrung asuhan Sarjono dari Jepara melagukan syair-syair pendek dengan cukup semarak.

Mereka adalah generasi penerus kentrung (seni bercerita dengan iringan rebana tinggal) yang kini mulai hampir punah di beberapa daerah. Dan Sarjono berhasil mengkader generasi di sekitarnya untuk melestarikan seni Kentrung.

Tampil juga Tari Retno Kencono Jepara asuhan Beje, dan disambung tari Gambyong dari Sukolilo asuhan Nurul Bagus mengobati kerinduan akan suasana seni tari jawa di Jepara.

Pelataran Joglo Garuda Gung yang biasanya sunyi itu, berubah menjadi arena pertunjukan dari berbagai kota.

Dari Kudus, Teater Samar garapan Leo Katarsis kembali menggelar Barongan Ndas Papat.

Barongan (berkepala empat) kontemporer dengan artistik unik dari anyaman bambu dan berkostum serba putih ini, terilhami oleh cerita tutur Rananggana dari Muria. Peradaban masyarakat sekitar Gunung Muria.

Gerak teaterikal yang mistis dan spiritual

Plat K #3 di desa Srobyong Mlonggo ini menjadi ajang Ngudarasa (bertukar pikiran) antarseniman untuk bertemu dan mengungkap kegelisahan zaman. Mereka dengan bahasa masing-masing ingin mengajak kita kembali pada jati diri sebagai anak bangsa, yang kadang terlupa akan akar budaya sendiri.

BACA JUGA  KPU Kota Tegal Luncurkan Maskot Pilkada Serentak 2024

Pada puncak acara, tampil musik etno Unen Unen Rengel dari Tuban garapan Hewod Raden.

Grup musik yang sudah melanglang berbagai perhelatan penting di dalam maupun luar negeri ini ikut menambah suasana nusantara yang mistis dan spiritual.

Nada-nada dari alat dawai maupun tiup memenuhi ruangan joglo membuat penonton seolah dibawa masuk ke pedalaman nusantara.

Unen Unen Rengel memikat yang hadir untuk terlibat , ada Babahe yang tiba tiba ikut meniup seruling, dan bersenandung, ada Citra melompat dan pose yoga, Imam Bucah membaca puisi spontan dan Rifan dengan haiku-nya menyuarakan kondisi ketimpangan politik Indonesia terkini.

Kolaborasi ini saling isi dan mencipta harmoni tanpa ada yang mendominasi. Mereka bergerak sesuai rasa. Inilah Ngudarasa ala seniman. Gerak dan bunyi adalah suara jiwa. Ekspresi dan emosi adalah cara bertutur mereka tentang keadaan di sekitar.

Barongan Ndas Papat mengingatkan kita akan nafsu dan keinginan yang terus menerus menggerogoti jiwa. Dia harus dikendalikan sang pancer. Atman sejati yang tak tergoyahkan oleh godaan.

Berusaha menjadi manusia sadar, dan eling  bukan yang lupa, dan kemaruk. (Putut Pasopati/W-01)

bowo prasetyo

Related Posts

Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberi kompensasi kepada para pengemudi transportasi tradisional di jalur mudik dan wisata Kabupaten Garut selama libur Lebaran 2026. Kebijakan itu dilakukan untuk mengurai kepadatan lalu…

Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

KLINIK Kecantikan DNY Skincare berbagi berkah Ramadan kepada ribuan warga dhuafa, penyandang disabilitas, dan anak yatim menjelang hari Raya Idulfitri 1447 H/2026 M. Sebanyak 2.600 paket bingkisan lebaran, dibagikan secara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

  • March 14, 2026
Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

Jelang Puncak Mudik Lebaran, KAI Logistik Perkuat Kesiapan

  • March 14, 2026
Jelang Puncak Mudik Lebaran, KAI Logistik Perkuat Kesiapan

Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

  • March 14, 2026
Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

Terjaring OTT, Bupati Cilacap Syamsul Aulia Dibawa ke Jakarta

  • March 14, 2026
Terjaring OTT, Bupati Cilacap Syamsul Aulia Dibawa ke Jakarta

Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Pakar Imbau Masyarakat tak Panik

  • March 14, 2026
Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Pakar Imbau Masyarakat tak Panik

Polda Jateng Siagakan Helikopter Ambulans di GT Kalikangkung

  • March 14, 2026
Polda Jateng Siagakan Helikopter Ambulans di GT Kalikangkung