
TIM Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan pencarian korban bencana alam di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Hasilnya mereka kembali menemukan delapan jenazah pada Sabtu (29/11).
Menurut Kapolres Taput AKBP Ernis Sitinjak dari delapan korban tersebut, enam di antaranya adalah warga Rantau Prapat, sementara dua lainnya berasal dari Kecamatan Adiankoting. Dengan temuan terbaru ini, total korban meninggal di wilayah Taput menjadi 23 orang.
Sementara itu, jumlah warga yang sebelumnya dilaporkan hilang kini berkurang dari 36 menjadi 28 orang yang masih dalam pencarian. “Hari ini tim evakuasi telah menemukan delapan jasad lagi,” ujarnya.
Data sebelumnya yang dirilis BPBD Sumatera Utara pada Kamis (27/11) mencatat 47 korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi yang menerjang 13 kabupaten/kota di provinsi tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Siklon tropis
Cuaca ekstrem yang memicu banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur ini disebut sebagai dampak Siklon Tropis Senyar, yang berkembang dari Bibit Siklon 95B sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka.
Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho mengatakan siklon tersebut menyebabkan Sumatera Utara diguyur hujan setiap hari dalam sepekan terakhir.
“Dampaknya memicu hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, serta angin kencang,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kelembapan udara yang sangat tinggi membuat atmosfer cukup basah, sehingga potensi hujan intensif semakin besar di banyak wilayah Sumut,” ujarnya
Tim gabungan saat ini, kata dia, masih terus bekerja di lapangan, menyisir area terdampak untuk mencari korban dan memulihkan akses warga yang terisolasi. (*/N-01)







