
DICK Cheney, politikus konservatif yang dikenal berpengaruh sekaligus kontroversial dalam sejarah Amerika Serikat, meninggal dunia pada usia 84 tahun. Cheney, yang menjabat sebagai wakil presiden di era pemerintahan George W. Bush dan menjadi tokoh utama di balik invasi Irak, wafat pada Senin (3/11) waktu setempat akibat komplikasi pneumonia serta penyakit jantung dan pembuluh darah.
Kabar duka tersebut disampaikan keluarga Cheney dalam pernyataan resmi pada Selasa (4/11).
Selama masa jabatannya, Cheney mengubah peran wakil presiden dari posisi seremonial menjadi pusat kekuasaan yang penuh pengaruh. Ia dikenal menjalankan kekuasaan di balik layar dengan strategi tajam dan kontrol yang kuat terhadap kebijakan pemerintahan Bush, terutama setelah serangan 11 September 2001.
Cheney kerap bersembunyi di lokasi rahasia demi keamanan nasional, namun hal itu juga mencerminkan gaya kepemimpinannya yang bekerja efektif dari balik bayang-bayang kekuasaan. Sosoknya sering disebut “Darth Vader” oleh publik julukan yang bahkan diakui Bush mencerminkan citra Cheney di mata masyarakat.
“Apakah saya ini seperti dalang jahat di pojokan yang tak pernah terlihat keluar dari lubangnya? Itu cara yang cukup nyaman untuk bekerja, sebenarnya,” ujar Cheney pernah berseloroh.
Dick Cheney melayani dua presiden era Bush
Cheney memiliki karier panjang dalam pemerintahan, melayani dua presiden dari keluarga Bush. Ia menjabat Menteri Pertahanan di era Presiden George H.W. Bush dan memimpin operasi militer dalam Perang Teluk. Saat putra Bush menjabat presiden, Cheney kembali ke Gedung Putih dan berperan layaknya kepala operasional pemerintahan, terutama dalam kebijakan keamanan nasional dan perang melawan teror.
Meski mengalami serangkaian serangan jantung dan sempat menjalani transplantasi jantung setelah masa jabatannya, Cheney tetap aktif membela kebijakan kerasnya, termasuk penggunaan penyadapan dan interogasi ekstrem terhadap tersangka terorisme.
“Sejarah akan mengenangnya sebagai salah satu pelayan publik terbaik di masanya, patriot yang membawa integritas, kecerdasan tinggi, dan kesungguhan dalam setiap jabatan yang ia emban,” kata mantan Presiden George W. Bush dalam pernyataannya.
Dilansir dari AP, setelah meninggalkan jabatan, Cheney menjadi sasaran kritik dari mantan Presiden Donald Trump, terutama setelah putrinya, Liz Cheney, menjadi oposisi utama Trump di Partai Republik. Liz juga dikenal vokal menentang upaya Trump mempertahankan kekuasaan usai kekalahan dalam Pemilu 2020 dan perannya dalam kerusuhan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
“Dalam sejarah bangsa kita yang berusia 246 tahun, tidak pernah ada individu yang menjadi ancaman lebih besar terhadap republik ini dibanding Donald Trump,” kata Cheney dalam sebuah iklan kampanye putrinya.
Dalam langkah yang tak pernah terbayangkan oleh banyak pihak, Cheney bahkan menyatakan dukungannya kepada kandidat Demokrat Kamala Harris dalam Pilpres melawan Trump tahun lalu.
Cheney, yang selamat dari lima serangan jantung, pernah mengatakan bahwa ia hidup dengan rasa syukur setiap hari. “Saya bangun setiap pagi dengan senyum, berterima kasih atas anugerah satu hari lagi,” ujarnya pada 2013, ungkapan yang menggambarkan ketenangan dari sosok yang selama hidupnya dikenal keras dan tegas. (*/S-01)








