
MASKAPAI tuntut kompensasi dibayarkan akibat penutupan bandara Heathrow di London baru-baru ini. Tuntutan itu disampaikan oleh sebuah lembaga yang mewakili lebih dari 90 maskapai.
CEO Heathrow Airline Operators’ Committee, Nigel Wicking seperti dikutip dari Sky News bahwa ia berharap masalah ini dapat diselesaikan secara damai.
“Jika kami tidak mendapatkan kompensasi dan penggantian biaya yang memadai, maka ya, mungkin ada kasus untuk tindakan hukum,” ujar Nigel Wicking.
“Saya berharap tidak perlu sampai ke sana. Tetapi dalam beberapa situasi, itu satu-satunya pilihan setelah semua upaya lain dilakukan,” tambahnya.
Maskapai tuntut kompensasi kerugian
Bandara terbesar di Eropa, Heathrow terpaksa ditutup pada Jumat (21/3) setelah kebakaran di gardu listrik utama menyebabkan gangguan pasokan listrik dan operasi bandara.
Tidak ada pesawat yang diizinkan lepas landas atau mendarat dan menyebabkan ratusan penerbangan dialihkan. Sekitar 1.300 penerbangan dan sekitar 250.000 penumpang terkena dampaknya.
Meskipun beberapa penerbangan kembali beroperasi pada Jumat malam, maskapai mengalami kesulitan dalam pemulihan. Sebab kru pesawat yang tersebar di berbagai lokasi global, menyebabkan gangguan besar bagi penumpang.
Wicking juga menyerukan penyelidikan independen untuk mengetahui penyebab insiden ini dan alasan lambatnya pemulihan.
“Maskapai memiliki kewajiban regulasi untuk merawat penumpang mereka,” kata Wicking. “Namun dalam kasus ini, kami merasa pihak lain yang menyebabkan situasi ini,” lanjutnya.
Penyelidikan
Menteri Energi Ed Miliband telah melakukan penyelidikan atas insiden kebakaran gardu listrik ini, bekerja sama dengan regulator energi Ofgem dan National Energy System Operator (NESO).
Pakar perjalanan Paul Charles memperkirakan maskapai dan pemasok bisa menanggung biaya sekitar £20 juta(20 juta poundsterling) akibat satu hari operasional yang terhenti.
Angka tersebut mencakup perkiraan biaya untuk penumpang, akomodasi kru, transportasi tambahan, bahan bakar, serta biaya lainnya untuk pesawat. (*/S-01)








