Cegah Krisis Air, Sultan Pimpin Reboisasi di Lereng Merapi

GUBERNUR DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (20/1) memimpin giat tanam pohon bersama Pemda DIY, Kraton Yogyakarta dan Pengurus Pusat Organisasi Pemuda Lintas Agama, Senin (20/01) di Nawang Jagad, Kaliurang, Sleman.

Hal itu dilakukan untuk mengurangi kelangkaan air bersih yang sering terjadi seiring deforestasi, betonisasi, polusi hingga global warming. Ada 3 jenis pohon langka yang ditanam, yaitu sawo kecik, kepel, dan pronojiwo.

Sultan menjelaskan bahwa selain dampak erupsi Merapi pada 2010 yang mengurangi ketersediaan air, pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur juga menjadi faktor penyebab. DIY menurut Sri Sultan membutuhkan pasokan air sebesar 800 liter per detik.

“Lereng Merapi tidak akan mencukupi seperti dulu. Sebelah barat telah terbakar beberapa tahun lalu seluas 200 hektare. Itu memang kembali, tapi tidak mungkin punya kecukupan. Oleh karena itu, penting pelestarian lingkungan di kawasan lereng Merapi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air,” papar Sri Sultan.

Lingkungan lestari

Sri Sultan berharap gerakan menanam pohon dan menjaga lingkungan tetap lestari ini menjadi gerakan masif di masyarakat. Gerakan ini juga diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat. Khusus agar lebih mencintai lingkungan dan alam sekitarnya.

“Dengan gerakan ini saya berharap, lingkungan itu tidak rusak tapi makin bagus, sehingga di lereng Merapi akan banyak tanaman. Dengan banyak tanaman tumbuh, mata air baru yang memungkinkan masyarakat itu juga di Sleman bisa menikmati dengan baik,” ungkap Sri Sultan.

BACA JUGA  Merapi Kembali Diguncang Gempa Guguran

Sri Sultan juga sangat mengapresiasi keterlibatan ormas lintas agama. Hal ini menjadi simbol dari persatuan dan tujuan yang sama, dalam upaya menjaga alam yang ditempati sekarang. “Itu simbol daripada kemauan yang sama, saya kira kesadaran itu juga harus tumbuh ke anak-anak muda,” tutup Gubernur DIY tersebut.

Tertutup lahar

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Datu Dana Suyasa, GKR Mangkubumi mengatakan, pasca erupsi Gunung Merapi 2010, banyak sungai-sungai yang tertutup lahar. Alam di kawasan Gunung Merapi tiap tahun juga semakin rusak.

Kurangnya sumber mata air terjadi tidak hanya karena lahar gunung, namun juga banyaknya aktivitas manusia yang merusak, salah satunya pertambangan pasir.

Menurut GKR Mangkubumi, jika alam rusak, akan mempengaruhi elemen-elemen yang lain, misalnya saja gumuk pasir hingga air di sekitarnya. Belum lagi ditambah dengan aktivitas eksploitasi yang dilakukan manusia.

“Kami ingin lebih banyak lagi pohon yang ditanam. Karena sejujurnya, sejak erupsi Merapi di 2010 yang agak besar itu banyak sekali sungai-sungai, dan aliran sungai yang tertutup. Nah, dengan penanaman yang semakin banyak ini, yang kemudian akan menimbulkan kembalinya sampai mengalir ke selatan. Mudah-mudahan dari teman-teman dari lintas agama bisa mengajak teman-teman lainnya untuk bersama-sama menanam yang lebih luas lagi,” jelas GKR Mangkubumi.

BACA JUGA  Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava Selama Sepekan

Keseimbangan alam

Menurut GKR Mangkubumi, sangat penting untuk merawat keseimbangan pada alam semesta. Masyarakat dihimbau untuk jangan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan sesaat. Maka, meskipun giat tanam pohon yang dilakukan saat ini belum berdampak, namun bukan berarti tidak akan berguna. Target dan tujuannya adalah untuk 1000 tahun ke depan.

Kepala Bebadan Pangreksa Loka, RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo yang menginisiasi acara ini mengungkapkan, permasalahan lingkungan harus senantiasa bisa diantisipasi sebelum terjadi. Pencegahan ini, juga bisa diterapkan untuk menangani kemungkinan krisis air.

Kegiatan ini melibatkan pemuda agama lintas agama, dan bergerak di bawah Bebadan Pangersaloka, di bawah naungan GKR Mangkubumi. Tugasnya adalah menanggulangi permasalahan lingkungan, di tengah tantangan dan perkembangan zaman.

Destinasi wisata

“Permasalahan yang paling krusial adalah bagaimana mengembalikan gunung sebagaimana fungsinya. Sesuai arahan Ngarso Dalem, gunung bali gunung, atau gunung kembali menjadi gunung. Artinya, melestarikan lingkungan supaya kembali seperti peruntukannya. Air dan lingkungan ini adalah sumber kehidupan bersama. Permasalahan lingkungan ini biasanya tidak terlihat, sampai sudah terjadi. Ketika sudah muncul dan sudah terjadi, itu artinya sudah terlambat,” ungkap Marrel.

BACA JUGA  Puncak Gunung Merapi Diguncang 1.277 Gempa Sepekan Terakhir

Lokasi Nawang Jagad menurut Marrel dipilih karena merupakan destinasi wisata di lereng Gunung Merapi. Pada pandemi covid-19 lalu, lokasi ini mendapatkan alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Gubernur DIY tahun 2020-2021. Bantuan tersebut diharapkan agar destinasi di lereng Merapi tersebut dikembangkan menjadi wisata berbasis alam melalui konsep eco tourism dan green tourism.

Pengembangan destinasi yang sepenuhnya dikelola para pemuda Kaliurang itu sedari awal tidak mengubah bentuk alam. Menurt Marrel, semua dibiarkan sesuai dengan kontur alam pegunungan. Menawarkan keindahan alam dengan view gunung Merapi.

“Sekarang bisa memberikan hasil tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk lingkungan dan masyarakat sekitar. Wisata tidak harus membangun bangunan permanen, wisata tidak harus merusak bentang alam. Wisata bisa bersahabat dengan alam,” tutup Marrel. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Kendalikan Arus Mudik, Polda Jateng Siapkan

KEPOLISIAN Daerah Jawa Tengah menyiapkan sejumlah strategi pengamanan untuk menghadapi arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Salah satunya dengan mendirikan pos terpadu di Kalikangkung sebagai pusat kendali lalu lintas.…

Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

LONGSOR gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona IV TPST Bantar Gebang pada Minggu (8/3) Pukul 14.30 WIB menelan empat korban jiwa menjadi bukti kegagalan  pengelolaan sampah di Jakarta. Dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Paket Pertama Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk Israel

  • March 9, 2026
Paket Pertama Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk Israel

Kendalikan Arus Mudik, Polda Jateng Siapkan

  • March 9, 2026
Kendalikan Arus Mudik, Polda Jateng Siapkan

Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

  • March 9, 2026
Bantar Gebang Longsor lagi, Alarm Keras Bagi Pemkot DKI

Puspenerbal Gelar Panen Raya Padi Varietas Unggul

  • March 9, 2026
Puspenerbal Gelar Panen Raya Padi Varietas Unggul

Korban Tenggelam di Muara Sungai Serang Ditemukan Meninggal

  • March 9, 2026
Korban Tenggelam di Muara Sungai Serang Ditemukan Meninggal

Fortusis Dukung Pembatasan Akses Medsos untuk Anak

  • March 9, 2026
Fortusis Dukung Pembatasan Akses Medsos untuk Anak