Dinilai Komersilkan Pendidikan, BEM UNS Tuntut Mendikbudristek Mundur

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret ( UNS) Surakarta melayangkan surat terbuka kepada Mendikbudristek Nadiem Makarim yang isinya agar dia meminta maaf kepada para mahasiswa dan mengundurkan diri dari jabatannya jika tidak mampu lagi bertugas.

Surat itu mereka layangkan lantaran Mendikbudristek dinilai telah mengkomersialisasi pendidikan secara membabi buta lewat Permendikbud no 2 Tahun 2024 tentang  Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi pada Perguruan Tinggi Negeri di lingkungan Kemendikbud.

Mereka juga menyebut Nadiem Makarim sebagai si Pedagang Pendidikan lantaran kebijakannya memiliki kecacatan berpikir dan menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis, yang memeras mahasiswa sebagai korban utama, serta menganggap pendidikan tinggi sebagai kebutuhan tersier.

BACA JUGA  61,5% Mahasiswa Baru Fakultas Peternakan UGM Menerima Subsidi UKT

Akibat dari Permendikbud Nomer 2 Tahun 2024 yang merupakan tindak lanjut dari keputusan Mendikbudristek Nomor 54/P/2004 tentang besaran SSBOPT, yakni angka standar biaya operasional yang ditetapkan tidak memperhitungkan perbedaan konteks dan kebutuhan antara institusi-institusi perguruan tinggi.

Ketua BEM UNS, Agung Lucky Pradita menegaskan, sudah seharusnya pendidikan dapat dinikmati  semua kalangan dan tidak ada sekat dan tidak dijadikan barang dagang dengan komersialisasi pendidikan.

Kebijakan Mendikbudristek Nadiem Makarim terkait kenaikan berlipat Uang Kuliah Tunggak (UKT) sama halnya sebagai ungkapan halus, bahwa orang kurang mampu tidak wajib kuliah.

Karena itu, BEM UNS mendesak Mendikbudristek meminta maaf secara terbuka kepada seluruh mahasiswa atas rusaknya pendidikan, mencabut Permendikbud No 2 Tahun 2024 yang telah memberikan ruang kepada perguruan tinggi untuk melakukan komersialisasi pendidikan.

BACA JUGA  149 Mahasiswa ADik Ikuti Pembinaan Kebangsaan di Yogyakarta

“Dan mundur dari jabatanMendikbudristek jika tidak mampu menyelesaikan permasalahan kenaikan biaya pendidikan tinggi,” tegas BEM dalam surat terbuka untuk Nadiem. (WID/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) berduka atas wafatnya Prof. Widagdo, Dipl.Inn.Arch., Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan salah seorang tokoh penting dalam perkembangan pendidikan desain interior…

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

AJANG olahraga lari Borobudur 100 tidak hanya menjadi ajang unjuk kebugaran, tetapi juga sarana untuk menggalang kepedulian sosial, guna mendukung kebutuhan medis dan harian anak-anak penyandang cerebral palsy. Project Director…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

  • September 27, 2026
Lulusan UPN Yogyakarta Diminta tidak hanya Fokus Kejar Karier

Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

  • September 27, 2026
Warisan tak Ternilai dan Kekal dari Prof Widagdo

Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

  • September 27, 2026
Hadir di Bandung, MAPrivilege Tawarkan Beragam Benefit

Kota Bandung Alami Kemajuan dalam Pelayanan Publik dan Investasi

  • September 27, 2026
Kota Bandung Alami Kemajuan dalam Pelayanan Publik dan Investasi

128 Peserta Ikuti Kejuaraan Domino ORADO Piala Panglima TNI

  • September 27, 2026
128 Peserta Ikuti Kejuaraan Domino ORADO Piala Panglima TNI

1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy

  • September 27, 2026
1000 Peserta Diharapkan Ikuti Lomba Borobudur 100 untuk Bantu Penyandang Cerebral Palsy