
TUMBU Tri Iswari Astianni atau dikenal sebagai Tumbu Ramelan telah lebih dari 50 tahun menjadi kolektor batik kuno. Istri Rahardi Ramelan ini mulai mengoleksi batik sejak menikah pada 1969.
“Saya ini orang Jawa, sesuatu yang tidak aneh dengan batik karena batik sudah dalam kehidupan sehari-hhari. Saya sudah mengenal batik sejak remaja,” ujar Tumbu kepada Mimbar Nusantara.
Minatnya semakin tumbuh setelah menerima berbagai hadiah pernikahan berupa lembaran kain batik dengan ragam yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sejak saat itu, dokter spesialis anestesiologi lulusan Rusia tersebut mulai serius mengoleksi batik.
Kini, koleksinya telah mencapai sekitar 3.000 lembar batik, sebagian di antaranya telah didokumentasikan dalam buku berjudul The 20th Century Batik Masterpieces: Tumbu Ramelan Collection.
“Buku ini sebagai pengenalan terhadap koleksi batik yang saya miliki,” katanya.
Perburuan batik kuno, menurutnya, bukan perkara mudah. Ia harus berkeliling Jawa dan Sumatra untuk mendapatkan kain-kain bersejarah tersebut. Salah satu koleksi tertuanya berasal dari tahun 1880, yakni batik Lasem yang digunakan di Sumatra.
“Kondisinya memang mengkhawatirkan, maka perlu perawatan,” jelasnya.
Meski banyak kolektornya dilirik dan ditawar untuk dibeli, Tumbu menegaskan tidak akan menjual koleksinya. Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia itu juga belum berencana mendirikan museum khusus.
“Saya punya ruangan untuk menyimpan koleksi batik. Tapi saya tidak tahu kalau saya nanti meninggal, keputusan kepada dua anak saya. Cuma saya pesan semua koleksi batik ini tidak boleh keluar dari Indonesia,” tegasnya.
Tumbu Ramelan telaten merawat kain batik
Untuk menjaga kualitas kain, Tumbu menempatkan koleksinya di ruang khusus yang anti jamur dan hama, dengan pengaturan kelembapan dan sirkulasi udara yang terkontrol. Kain-kain tersebut juga rutin diangin-anginkan agar tetap terjaga.
Ia mengenang, sebelum memiliki ruang penyimpanan khusus, batik-batik itu sempat memenuhi lantai kamar tidur ber-AC di rumahnya.
“Bapak sering susah masuk kamar karena lantai penuh dengan kain,” ujarnya sambil tertawa.
Di tengah persaingan global, Tumbu juga menyoroti maraknya tekstil bermotif batik dari luar negeri, termasuk dari China. Ia menegaskan, produk tersebut bukan batik.
“Bisa disebut batik apabila proses pewarnaannya menggunakan metode celup rintang dengan lilin (malam). Kalau hanya motif, itu tekstil motif batik,” jelasnya.
Batik sendiri telah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Intangible Cultural Heritage of Humanity). Karena itu, menurut Tumbu, warisan budaya tersebut harus terus dijaga.
Ia menilai kondisi industri batik kini jauh lebih baik dibanding era 1980-an, ketika rumah-rumah pembatik terkesan kumuh dan kurang diminati generasi muda. Saat ini, proses produksi lebih rapi dan bersih, serta mulai menarik minat anak muda untuk menjadi pembatik maupun pengusaha batik.
“Sekarang SDM pembatik mulai pulih. Anak-anak muda juga mulai tertarik. Ini harapan baik untuk masa depan batik Indonesia,” pungkasnya. (S-01)






