
PUNCAK perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta tahun ini terasa spesial dengan kembali hadirnya gelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC).
Parade kebudayaan yang menampilkan karakter wayang dari 14 kemantren (kecamatan) yang ada di Kota Yogyakarta tersebut berhasil menyatukan ribuan masyarakat di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, pada Rabu (07/10).
Ke-14 kemantren yang memeriahkan WJNC 2026 meliputi Kemantren Kotagede, Gedongtengen, Pakualaman, Kraton, Umbulharjo, Mantrijeron, Mergangsan, Jetis, Danurejan, Wirobrajan, Gondomanan, Tegalrejo, Gondokusuman, dan Ngampilan.
Adapun 14 tokoh wayang yang dihadirkan dalam parade tersebut, yakni Bhatari Gagarmayang, Prabu Nilaudraka, Bhatara Guru, Bhatara Penyarikan, Bhatara Bayu, Bhatara Sambu, Bhatara Daneswara, Bhatara Uma, Sang Hyang Candra, Bhatara Indra, Bhatara Brahma, Bhatara Nurada, Bhatara Kamajaya, dan Bhatara Surya.
Beragam tradisi

Saat membacakan sambutan Gubernur DIY, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menyatakan, WJNC menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan secara langsung beragam tradisi dan kisah leluhur yang dihadirkan melalui parade budaya.
Pun, kehadiran tradisi pada ruang terbuka tersebut membuat nilai-nilai filosofi dapat semakin dikenal dan dihayati oleh warga dari segala usia.
“Sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawono, memperindah dan menjaga kehidupan bersama, di sumbu filosofi ini, tradisi hadir di jalan raya sehingga kisah leluhur dapat dikenal dan dihayati warga dari segala usia,” ungkap Sri Paduka.
Tempat belajar ilmu
Tema Ganakalajaya yang mengisahkan kelahiran Dewa Ganesha dipandang memiliki nilai yang selaras dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar.
Sebagai tempat para pelajar dari berbagai penjuru negeri untuk menimba ilmu, Sri Paduka mengingatkan, ilmu yang diperoleh tidak boleh berhenti pada pengetahuan semata, melainkan perlu dijalani dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai kota pelajar, leluhur mengajarkan “ngelmu iku kelakone kanthi laku”, ilmu menjadi hidup ketika dijalani. Para pelajar datang dari penjuru negeri untuk menimba pengetahuan di kota ini, maka kita berharap ilmu itu tumbuh menjadi kecakapan dan kecakapan menjadi pengabdian,” tutur Sri Paduka.
Kuat hadapi tantangan
Pada kesempatan yang sama, Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut mengungkapkan makna tema “Ganakalajaya” yang diusung WJNC 2026.
Menurutnya, tema tersebut membawa pesan “Ora Mingkuh”, yang berarti tidak menghindar dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan.
“Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, dan jaya sebagai kejayaan bersama,” lanjutnya.
Nilai-nilai tersebut, menurut Hasto, juga sejalan dengan tema dan semangat yang dibawa Kota Yogyakarta di hari ulang tahun ke-270nya, yakni “Otentik Konkret”.
Warisan budaya
Sebab, Yogyakarta memiliki banyak kekayaan yang bersifat autentik, diantaranya nilai-nilai dan warisan budaya, kesenian, pendidikan, hingga ragam destinasi wisata.
“Oleh karena itu, semangat kali ini adalah bagaimana membuat nilai-nilai yang autentik itu menjadi konkret, bisa dinikmati oleh warga masyarakat. Sehingga hari ini kita mengambil tagline dengan Otentik dan Konkret,” jelas Hasto.
Hasto menambahkan, keistimewaan WJNC 2026 juga terletak pada momentum satu dekade penyelenggaraannya pada tahun ini. Juga, jika pada tahun-tahun sebelumnya panggung utama berada di kawasan Tugu Jogja, tahun ini panggung utama dipusatkan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
10 besar Kharisma Event Nusantara
Meski demikian, mewakili Pemerintah Kota Yogyakarta, Hasto menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan terkait perpindahan panggung utama tersebut demi penyelenggaraan WJNC yang semakin baik pada tahun-tahun mendatang.
Pada 2024 dan 2025, WJNC berhasil masuk dalam 10 besar Kharisma Event Nusantara. Di tahun 2026 ini, WJNC untuk pertama kalinya tergabung sebagai salah satu dari 125 program Kriteria Unggulan Nusantara Kementerian Pariwisata, bersama Keroncong Plesiran dan Geopark Night Specta.
WJNC 2026 sekaligus menegaskan posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata sekaligus ruang ekspresi kebudayaan.
Melalui gelaran ini, kekayaan dan adiluhung kebudayaan Yogyakarta dikemas dalam balutan street art yang atraktif, sekaligus membuka ruang kolaborasi bersama daerah-daerah lain dalam berpartisipasi dan berkontribusi dalam memperkaya wajah kebudayaan Yogyakarta. (AGT/M-01)







