
PROGRAM Studi (prodi) Integreted Arts Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menghelat konser Orkestra Dangiang Karinding.
Karinding merupakan alat musik tradisional Sunda, yang mempunyai daya tarik tersendiri dibanding alat musik lain. Cara memainkannya pun terbilang unik, dengan cara disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel di bibir.
Karinding, atau harpa mulut (Jaws Harp) merupakan waditra atau alat musik yang sangat tua. la dipercaya sebagai waditra pertama di Tatar Sunda, yang menjadi titik mula kemunculan waditra-waditra lainnya.
Berbagai varian harpa mulut yang tersebar di muka bumi lebih jauh menunjukkan sifat primordial dari alat musik ini. Bilah kecil Karinding adalah jembatan penghubung dari warisan nenek moyang.
Rektor Unpar, Tri Basuki Joewono usai konser mengatakan Unpar mempunyai prodi Integreted Arts.
Melalui prodi tersebut, pihaknya berkomitmen membangkitkan kemanusiaan melalui aspek seni. Konser Orkestra Dangian Karinding bagian dari ekspresi yang menarik dan jarang dilakoni.
“Ini adalah sesuatu yang sangat lokal dan kemudian diapresiasi oleh Unesco. Salah satu kolaborasi yang menarik punya visi mengangkat budaya lokal ke tingkat internasional,” ungkapnya, Rabu (24/7).
Menurut Joewono, salah satu aspek dari prodi Integreted Arts, ialah manajemen seni pertunjukan. Prodi ini di Unpar yang pertama, sedangkan di luar negeri itu ada di Liberal Art.
“Kita mau membongkar atau menunjukan sisi lain sebenarnya, seni itu harus sesuatu yang penting untuk kehidupan, yang ingin kita ditunjukkan bagaimana seni itu berkomunikasi,” tuturnya.
Sehingga seni yang dikembangkan tersebut bersinggungan dengan filsafat. Dan inilah yang dikembangkan oleh teman-teman di Integrated Arts.
Saatnya Mengekspos Karinding
Dosen Integrated Arts Unpar, Elaine V.B Kustedja menambahkan, bahwa kegiatan ini, dihelat dengan menggandeng kolaborasi Pangauban Karinding dan Atap Foundation.
Ia mengakui bahwa pemaparan pengkajian tentang instrumen karinding masih kurang terekspos. Itu sebabnya Unpad merancang agar ada area pameran instrumen alat musik tersebut dan mencoba untuk dikaji lebih jauh.
“Yang jelas karinding bukan hanya sekedar alat musik dari bambu saja, tapi ada nilai-nilai bermuatan kelestarian lokal,” ucapnya.
Menurut Elaine, pada helatan kali ini ada 13 komposisi yang dibawakan dan dibagi menjadi tiga babak, Jumlah penonton yang menyaksikan perhelatan musik kariding mencapai 900 orang. (Rava/S-01)







