Menu MBG Harusnya Disesuaikan dengan Kebutuhan Nutrisi Siswa

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai keluhan dari orang tua siswa di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait kualitas menu selama  Ramadan.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa paket makanan yang dibagikan di beberapa sekolah didominasi oleh roti sehingga dinilai kurang layak sebagai sumber asupan gizi utama bagi siswa.

Kritik tersebut mendorong Pemerintah Daerah DI Yogyakarta untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan.

Informasi kandungan gizi

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X kemudian meminta pihak penanggung jawab program untuk merespon berbagai keluhan masyarakat terkait kualitas makanan yang diterima siswa.

Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya transparansi dalam penyediaan makanan, salah satunya dengan mewajibkan setiap paket MBG mencantumkan informasi kandungan gizi serta rincian harga komponen makanan.

Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai nilai paket makanan yang diterima siswa sekaligus memastikan bahwa kualitas makanan benar-benar sejalan dengan anggaran yang telah dialokasikan.

Kebijakan yang matang

Pakar teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menilai bahwa program MBG pada dasarnya memiliki tujuan yang sangat baik karena berupaya meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah.

Ia menjelaskan bahwa secara umum gagasan menyediakan makanan bergizi bagi siswa merupakan langkah yang mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, terutama karena kebutuhan nutrisi pada masa pertumbuhan sangat menentukan perkembangan kesehatan dan kemampuan belajar anak.

Menurut dia keberhasilan program semacam ini tidak hanya ditentukan oleh tujuan yang baik, tetapi juga sangat bergantung pada perencanaan kebijakan yang matang, mulai dari penentuan anggaran, penyusunan standar gizi, hingga mekanisme pelaksanaan di lapangan.

Tanpa perencanaan yang terstruktur dengan baik, program yang memiliki tujuan positif berpotensi menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya.

Harga paket makanan

“Kalau tujuannya untuk meningkatkan gizi anak SD, SMP, dan SMA tentu semua orang setuju. Tetapi persoalannya adalah apakah rencana itu sudah disusun secara baik, termasuk harga yang ditetapkan dari pusat,” ujarnya, Jumat (13/3).

BACA JUGA  Pemkot Bandung Buka Akses Lahan untuk Dapur SPPG

Sri Raharjo menggarisbawahi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan MBG adalah penetapan harga paket makanan yang diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia.

Saat ini, paket MBG ditetapkan dalam kisaran harga sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi. Menurutnya, kebijakan harga yang sama untuk seluruh wilayah tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam, terutama jika dikaitkan dengan variasi kebutuhan gizi siswa pada jenjang pendidikan yang berbeda.

”Kebutuhan energi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas tidaklah sama sehingga perencanaan menu harus mempertimbangkan perbedaan tersebut,” tuturnya.

Rantai penyaluran makanan

Selain itu, ia juga menelisik sistem pelaksanaan program yang melibatkan berbagai pihak dalam rantai distribusi makanan.

Dalam skema yang berjalan saat ini, pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional bekerja sama dengan sejumlah yayasan yang kemudian menyalurkan program kepada sekolah melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Melalui mekanisme ini, yayasan yang ditunjuk akan bekerja sama dengan pengelola dapur untuk memproduksi makanan sebelum akhirnya didistribusikan kepada siswa di sekolah.

Menurut Sri Raharjo, sistem tersebut membuat kualitas makanan yang diterima siswa sangat bergantung pada kemampuan pihak yang mengelola dapur produksi.

Pengalaman dan keterampilan

Sementara pengolahan makanan dalam jumlah besar memerlukan pengalaman, keterampilan teknis, serta manajemen produksi yang baik agar kualitas makanan tetap terjaga secara konsisten.

“Dapur yang sudah diisi oleh orang-orang yang memiliki pengalaman kerja biasanya dapat mempertahankan kualitas makanan. Tetapi jika pengelolanya belum terlatih menangani produksi dalam jumlah besar, risiko terhadap keamanan pangan dan nilai gizinya bisa lebih tinggi,” jelasnya.

Selain persoalan pengelolaan dapur, Sri Raharjo juga menyoroti pentingnya memastikan bahwa setiap paket makanan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan energi siswa.

Kebutuhan kalori

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan kalori untuk sekali makan berbeda-beda pada setiap jenjang pendidikan.

BACA JUGA  Sanitasi Buruk dan Buang Air Besar Sembarangan Jadi Penyebab Cacingan

Menurutnya siswa sekolah dasar rata-rata membutuhkan sekitar 450 kalori, siswa SMP sekitar 550 kalori, sementara siswa SMA dapat membutuhkan sekitar 650 hingga 700 kalori untuk satu kali makan.

“Kebutuhan energi tersebut harus dipenuhi melalui komposisi nutrisi yang seimbang, yang terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak dalam proporsi yang tepat,” paparnya.

Dikatakan penyusunan menu makanan harus mempertimbangkan berbagai komponen tersebut agar kebutuhan energi siswa tetap terpenuhi.

Menu ideal

Dalam praktiknya, menu MBG idealnya terdiri dari sumber karbohidrat seperti nasi, sumber protein baik nabati maupun hewani, serta sayur dan buah sebagai pelengkap gizi.

“Kalau satu kali makan harus memenuhi sekitar 500 kalori, komposisinya harus mencakup karbohidrat, protein, dan lemak dalam jumlah yang cukup. Padahal biaya satu paket juga harus mencakup nasi, lauk protein, sayur, dan buah,” katanya.

Sri Raharjo kemudian menjelaskan bahwa sumber protein hewani seperti telur, ayam, atau ikan umumnya memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan protein nabati.

Perlu perencanaan

Oleh karena itu, penyusunan menu harus dilakukan dengan perencanaan yang sangat cermat agar kebutuhan gizi siswa tetap dapat terpenuhi meskipun anggaran yang tersedia terbatas.

Ia juga menelaah perubahan format menu yang terjadi selama bulan Ramadan. Dalam periode tersebut, makanan yang dimasak pada pagi atau siang hari biasanya baru dikonsumsi oleh siswa saat waktu berbuka puasa.

Situasi ini membuat jenis makanan yang dipilih harus mempertimbangkan daya tahan makanan serta aspek keamanan pangan.

Menurut Sri Raharjo, makanan yang disiapkan dalam kondisi tersebut harus dirancang agar tetap aman dikonsumsi beberapa jam setelah dimasak.

Pengaruhi kandungan gizi

“Karena makanan dimasak pagi atau siang tetapi dimakan malam, maka harus dipilih makanan yang relatif aman sampai waktu berbuka, biasanya berupa olahan yang lebih kering serta buah utuh,” ujarnya.

Namun, taksirannya perubahan bentuk menu tersebut juga berpotensi memengaruhi kandungan gizi yang diterima siswa.

Dalam beberapa kasus, menu yang disederhanakan untuk menyesuaikan kondisi distribusi dapat membuat komposisi kalori dan nutrisi menjadi kurang optimal.

BACA JUGA  MBG untuk Ibu Hamil dan Batita Harus Terintegrasi

Evaluasi berkelanjutan

Kondisi ini, imbuh Sri Raharjo, dapat menjadi salah satu alasan munculnya keluhan dari orang tua siswa yang menilai paket makanan yang diterima anak-anak mereka kurang memenuhi kebutuhan nutrisi.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program MBG agar tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, dapat tercapai secara optimal.

Sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program, Sri Raharjo juga menilai bahwa mekanisme penyediaan makanan melalui dapur produksi berskala besar masih menyisakan sejumlah tantangan, terutama dalam hal pengawasan kualitas dan keamanan pangan.

Produksi makanan dalam jumlah sangat besar setiap hari membutuhkan manajemen dapur yang ketat serta tenaga kerja yang berpengalaman agar kualitas makanan tetap terjaga secara konsisten.

Memanfaatkan kantin sekolah

Pendekatan lain dapat dipertimbangkan untuk membuat pelaksanaan program lebih terkendali, lanjutnya salah satunya dengan memanfaatkan kantin sekolah sebagai basis penyediaan makanan bagi siswa.

“Pertama, sebaiknya penyelenggaraan MBG itu berprinsip pada kantin sekolah. Tentang budgetnya Rp10.000 tetap bisa berjalan, tetapi standar gizi minimum diharapkan tetap tercapai,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri, sistem tersebut memungkinkan makanan diolah langsung di lingkungan sekolah sehingga proses produksi dan distribusi menjadi lebih sederhana sekaligus lebih mudah diawasi karena pegawai dapurnya juga tidak banyak.

“Memang tetap membutuhkan tenaga kerja, tetapi tidak sebanyak dapur SPPG yang harus memasak dalam jumlah sangat besar,” katanya.

Lebih manageable

Selain itu, ia menilai bahwa aspek keamanan pangan juga dapat lebih terjaga karena makanan diproduksi dan didistribusikan di tempat yang sama.

“Kalau diolah dan dibagikan di sekolah, risikonya bisa lebih kecil dan semuanya lebih manageable,” pungkasnya. (AGT/M-02)

Related Posts

Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberi kompensasi kepada para pengemudi transportasi tradisional di jalur mudik dan wisata Kabupaten Garut selama libur Lebaran 2026. Kebijakan itu dilakukan untuk mengurai kepadatan lalu…

Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

KLINIK Kecantikan DNY Skincare berbagi berkah Ramadan kepada ribuan warga dhuafa, penyandang disabilitas, dan anak yatim menjelang hari Raya Idulfitri 1447 H/2026 M. Sebanyak 2.600 paket bingkisan lebaran, dibagikan secara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

  • March 14, 2026
Pemprov Jabar Beri Kompensasi untuk Kusir Delman dan Tukang Becak

Jelang Puncak Mudik Lebaran, KAI Logistik Perkuat Kesiapan

  • March 14, 2026
Jelang Puncak Mudik Lebaran, KAI Logistik Perkuat Kesiapan

Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

  • March 14, 2026
Sambut Lebaran, DNY Skincare Bagikan Bingkisan untuk Dhuafa dan Difabel

Terjaring OTT, Bupati Cilacap Syamsul Aulia Dibawa ke Jakarta

  • March 14, 2026
Terjaring OTT, Bupati Cilacap Syamsul Aulia Dibawa ke Jakarta

Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Pakar Imbau Masyarakat tak Panik

  • March 14, 2026
Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Pakar Imbau Masyarakat tak Panik

Polda Jateng Siagakan Helikopter Ambulans di GT Kalikangkung

  • March 14, 2026
Polda Jateng Siagakan Helikopter Ambulans di GT Kalikangkung