
UNTUK meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dan terutama untuk meminimalkan korban saat bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan simulasi gempa megatrhust di Mentawai. Simulasi diawali dengan teriakan warga bersama dengan suara sirine di Dusun Mapdegat, Desa Tuapejat, Pulau Sipora.
Dalam simulasi itu, guncangan kuat gempabumi berkekuatan magnitudo 8,9 selama 30 detik. Masyarakat diminta melakukan pertahanan diri mulai dari berlindung di bawah meja dan menghindari material kaca maupun bangunan yang rentan roboh hingga guncangan berakhir.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini Tsunami untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan status ancaman AWAS sehinggga diharapkan masyarakat melakukan proses evakuasi.
Masyarakat lalu melakukan evakuasi dengan memukul kentongan dan bahu membahu memprioritaskan kelompok rentan seperti orang lanjut usia (lansia), ibu hamil dan anak-anak menuju ke Tempat Evakuasi Sementara (TES) di Gereja Phiniel.
Tim kelompok siaga bencana (KSB) Sikerei bergerak melakukan koordinasi dengan perangkat daerah setempat untuk pendataan kerusakan, korban jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
Layanan Psikologi Dasar turut dikerahkan untuk menetralkan kondisi psikologi masyarakat yang terkejut setelah mengalami bencana.
Jadi budaya
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M menegaskan bahwa latihan simulasi bencana bukan hanya latihan sekali seumur hidup.
“Kesiapsiagaan bukan hanya jadi pembelajaran dan latihan sekali seumur hidup, tapi harus menjadi budaya dan pelajaran seumur hidup,” tegas Suharyanto dalam keterangan resmi, Jumat (6/9).
Kondisi Indonesia di tengah zona antar lempeng tektonik aktif menjadi penyebab rawannya terjadi bencana gempabumi dan tsunami.
Suharyanto mengimbau bagi masyarakat untuk tidak berlebihan dalam menyikapi isu potensi megathrust dan fokus untuk meningkatkan kesiapsiagaan mulai dari tingkat keluarga.
“Kita fokus untuk memeriksa rencana evakuasi mandiri, jalur evakuasi, memelihara shelter dan melatih kembali komunikasi risiko berbasis komunitas,” tutur Suharyanto.
Dirinya menambahkan untuk memanfaatkan sistem peringatan dini yang ada seperti kentongan, toa Masjid, lonceng Gereja, maupun sirine untuk menyampaikan tanda bahaya dan evakuasi.
“Kita hidup di negara yang rawan bencana, sehingga apapun bahayanya kita perkuat budaya sadar bencana agar kita siap untuk selamat,” ujarnya.
Jawa dan Sumatra
Selain di Mentawai, latihan simulasi menghadapi potensi megathrust juga dilakukan secara serentak di tiga lokasi lain, yaitu Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.
Suharyanto mengungkapkan tujuan apel dan latihan serentak ini guna membangun dan melatih kembali kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi potensi gempa dan tsunami di sepanjang kawasan megathrust Sumatra dan Jawa. (*/N-01)







