
Timnas Indonesia akhirnya mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah melewati final penuh drama.
Malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026), bukan sekadar malam kemenangan bagi Timnas Indonesia.
Di tengah sorak-sorai dan kebahagiaan yang belum reda, sebuah percakapan singkat di area ruang ganti dan lorong stadion menghadirkan momen yang jauh lebih dalam: pertemuan Elkan Baggott dengan Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Pertemuan itu berlangsung sederhana. Tidak ada panggung, kamera konferensi pers, atau pidato panjang. Hanya dua orang yang berbicara dari hati ke hati setelah perjuangan panjang. Elkan menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Erick.
“Sejak Anda datang, Anda membawa banyak perubahan bagi sepak bola Indonesia,” ujar Elkan.
Erick sempat merendah. “Bukan saya, tapi kamu yang membawa perubahan,” balasnya. Namun, Elkan tidak bergeser dari keyakinannya.
Membawa perubahan
“Tidak, Anda yang membawa perubahan. Saya berterima kasih karena Anda membawa perubahan kepada semuanya, kepada federasi, kepada tim. Anda membawa semuanya ke tempat yang lebih baik. Saya berterima kasih,” katanya, sebelum memeluk Erick dengan hangat.
Kalimat itu terasa semakin bermakna karena beberapa jam sebelumnya Elkan menjadi salah satu pahlawan kemenangan Indonesia. Bek kelahiran Bangkok tersebut bermain penuh hingga adu penalti.
Saat Garuda tertinggal 1-2 pada babak tambahan waktu, ia muncul pada menit ke-116 dan mencetak gol penyama kedudukan melalui tembakan yang membentur bagian bawah mistar. Gol itu menjaga harapan Indonesia tetap hidup.
Dalam adu penalti, Elkan kembali menunjukkan keberanian. Eksekusinya berhasil, dan Indonesia akhirnya menang 4-2 setelah laga berakhir 2-2 hingga waktu normal serta perpanjangan waktu. Malam itu, ia bukan hanya menjaga pertahanan, tetapi juga menyelamatkan mimpi jutaan suporter.
Harapan menyala
Bagi para pendukung di tribun, gol tersebut bukan sekadar angka di papan skor. Itu adalah jawaban atas ketegangan, penantian, dan luka lama yang pernah hadir dalam pertemuan Indonesia dengan Thailand.
Dari kaki Elkan, harapan yang hampir padam kembali menyala dan mengantar Garuda menuju sejarah baru.
Di tengah suasana haru, Elkan kemudian bertanya, “Bisakah saya berfoto dengan Anda?” Erick mengiyakan. Sebuah selfie pun mengabadikan kebersamaan mereka—bukan sekadar foto juara, melainkan potret rasa hormat, kepercayaan, dan perjalanan sepak bola Indonesia yang sedang menemukan arah baru.
Di balik trofi dan sorotan lampu, ada satu pesan yang tinggal: perubahan terbesar selalu lahir dari kerja bersama, ketulusan, dan keberanian untuk saling menghargai. (W-01)





