
KOREA Utara tetap bungkam atas tawaran berulang dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un. Sebagai gantinya, Pyongyang justru melakukan uji coba rudal jelajah yang oleh para analis dinilai sebagai sinyal penolakan terhadap tawaran tersebut.
Kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa Korea Utara menembakkan rudal jelajah strategis laut-ke-permukaan di Laut Kuning pada Selasa (28/10), setelah melakukan peningkatan pada sistem peluncuran berbasis kapal.
Uji coba rudal itu dilakukan hanya beberapa jam sebelum Trump tiba di Gyeongju, Korea Selatan, untuk menghadiri pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) serta melakukan pembicaraan dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Dalam kunjungan ke Asia kali ini, Trump berulang kali menyatakan kesediaannya untuk bertemu Kim Jong-un — pertemuan pertama dalam lebih dari enam tahun jika benar-benar terjadi. Trump juga menyebut Korea Utara sebagai “semacam kekuatan nuklir,” dan membuka kemungkinan adanya negosiasi pelonggaran sanksi, bahkan menyebut ia bisa memperpanjang kunjungannya demi bertemu Kim.
Hingga Rabu (29/10) pagi, media pemerintah Korea Utara belum memberikan tanggapan atas tawaran Trump tersebut. Presiden AS itu dijadwalkan berada di Korea Selatan hingga Kamis (30/10).
Menurut Lim Eul-chul, profesor dari Institut Kajian Timur Jauh Universitas Kyungnam, peluncuran rudal itu menjadi sinyal kuat bahwa Kim menolak “tawaran pertemuan yang gigih” dari Trump.
“Kemungkinan pertemuan antara AS dan Korea Utara kini menurun,” ujar Lim.
Uji coba rudal jelajah sebagai penolakan
Para analis menilai, Korea Utara saat ini memiliki sedikit insentif untuk kembali bernegosiasi dengan Washington. Hal ini karena kerja sama militer yang semakin erat dengan Rusia memungkinkan Pyongyang menghindari sanksi internasional, sementara hubungan dengan Tiongkok juga terus membaik.
Dalam sidang parlemen bulan lalu, Kim Jong-un menyatakan Korea Utara tetap terbuka untuk berdialog jika Amerika Serikat menghentikan tuntutan denuklirisasi. Namun ia menegaskan negaranya tidak akan melakukan “tukar-menukar” dengan musuh hanya demi pelonggaran sanksi.
Sejumlah pengamat juga memperkirakan Korea Utara mungkin menunggu kompromi yang lebih besar dari Washington, seperti penghentian latihan militer gabungan AS–Korea Selatan, sebelum bersedia membuka kembali jalur diplomasi.
Meski begitu, peluang pertemuan Trump–Kim disebut masih terbuka, meski kecil, selama Trump masih berada di Semenanjung Korea. (Yonhap/S-01)









