
PENGEMBANGAN layanan logistik ramah lingkungan atau green freight service menjadi strategi baru untuk memperkuat pertumbuhan bisnis angkutan kereta api kontainer.
Selain meningkatkan daya saing bisnis, inisiatif ini diarahkan untuk mendorong sistem distribusi yang lebih efisien dan rendah emisi melalui pengelolaan gas rumah kaca (GRK) secara transparan dan terukur.
Strategi tersebut menjadi bagian dari pengembangan bisnis angkutan multikomoditas yang mencakup optimalisasi layanan ekspor-impor, pengembangan layanan logistik hijau, serta akuisisi pelanggan baru.
Langkah itu diharapkan memperluas pasar sekaligus meningkatkan pemanfaatan angkutan kereta api kontainer.
Transparansi emisi
Melalui strategi tersebut, pendapatan segmen angkutan multikomoditas diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 8,5% hingga 2029.
Pendapatan ditargetkan mencapai Rp568,4 miliar, dengan sebagian besar pertumbuhan ditopang pengembangan green freight service.
Direktur Utama KAI Logistik (Kalog) Yuskal Setiawan Jumat (30/10) menerangkan, pengembangan layanan logistik rendah emisi merupakan langkah strategis untuk menjawab meningkatnya kebutuhan industri terhadap transparansi emisi dan pelaporan keberlanjutan.
“Seiring berkembangnya tuntutan pengungkapan kinerja lingkungan dalam rantai pasok, pelanggan membutuhkan data emisi dari penyedia jasa logistik untuk mendukung pengukuran jejak karbon, penyusunan laporan keberlanjutan, serta pencapaian target dekarbonisasi perusahaan,” tuturnya.
Emisi karbon
Menurut Yuskal, pengembangan layanan tersebut mencakup penghitungan emisi karbon dari aktivitas transportasi kereta api, operasional terminal, hingga distribusi first mile dan last mile.
Penghitungan mengacu pada metodologi yang relevan, termasuk ISO 14083 sebagai salah satu standar penghitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca dalam operasi rantai transportasi.
Layanan ini juga mencakup pelaporan emisi terintegrasi, konsultasi dan rekomendasi mitigasi emisi, serta dokumentasi upaya keberlanjutan pelanggan berdasarkan kriteria terukur. Untuk memperkuat diferensiasi layanan, perusahaan mengembangkan konsep carbon-labelled freight, yakni penyediaan informasi atau sertifikat emisi karbon pada setiap pengiriman.
“Saat ini, kalkulator emisi telah tersedia untuk layanan pengiriman ant stasiun. Ke depan, pengukuran akan diperluas ke seluruh rantai pasok sehingga laporan emisi dapat mencakup aktivitas transportasi truk, operasional terminal, hingga angkutan kereta api. Integrasi tersebut diharapkan memberikan gambaran menyeluruh mengenai jejak karbon dalam rantai distribusi,” tandasnya.
Mitigasi emisi
Dengan demikian kata Yuskal, pelanggan dapat mengidentifikasi peluang mitigasi emisi, mengevaluasi alternatif transportasi yang lebih efisien, serta menjadikan aspek keberlanjutan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan logistik.
Pengembangan green freight service merupakan upaya menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan kebutuhan pelanggan terhadap solusi logistik yang transparan, efisien, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat inovasi layanan, memperluas kemitraan, meningkatkan akuisisi pelanggan, serta mengembangkan angkutan multikomoditas sebagai salah satu pilar pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya.
Yuskal menambahkan, pengembangan layanan tersebut sekaligus memperkuat peran angkutan kereta api kontainer dalam ekosistem logistik nasional, terutama mendukung transformasi rantai pasok menuju sistem distribusi yang lebih efisien dan rendah emisi.
Dari sisi kinerja, layanan kereta api kontainer mencatatkan volume angkutan mencapai 2,5 juta ton sepanjang 2025. Capaian tersebut tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2,3 juta ton. Sementara itu, sepanjang 2026 hingga Triwulan III, volume angkutan tercatat sekitar 2,3 juta ton. (zahra/N-01)







