
DAERAH Istimewa Yogyakarta mengalami inflasi year on year (y-o-y) sebesar 3,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,22 pada Oktober.
Kabupaten Gunungkidul tercatat mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,12 persen dengan IHK sebesar 111,17, sedangkan Kota Yogyakarta mengalami inflasi y-on-y sebesar 2,92 persen dengan IHK sebesar 113,51.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,18 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,26 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,94 persen.”
“Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,16 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,69 persen, kelompok transportasi sebesar 4,27 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,99 persen.”
“Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,65 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,43 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,31 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,75 persen,” kata Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Endang Tri Wahyuningsih di Yogyakarta, Senin.
Kelompok pengeluaran
Dikatakan andil setiap kelompok pengeluaran terhadap inflasi y-on-y, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,16 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,09 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,16 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen, kelompok transportasi sebesar 0,55 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen.
Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,09 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,12 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Oktober 2026, jelasnya antara lain emas perhiasan, bensin, beras, cabai rawit, buncis, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, bayam, kacang panjang, wortel, pepaya.
Sepeda motor, pelumas/oli mesin, cabai merah, akademi/perguruan tinggi, angkutan udara, daging ayam ras, kangkung, kacang tanah, tempe, semangka, laptop/notebook, ikan bandeng/ikan bolu, tomat dan daging sapi.
Komoditas sumbangan deflasi
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain kelapa, telur ayam ras, bawang merah, daun melinjo, sabun detergen bubuk, dan susu bubuk untuk balita.
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada Oktober 2026, antara lain: cabai merah, tomat, akademi/perguruan tinggi, beras, cabai rawit, buncis, cabai hijau, labu siam/jipang, bayam, kacang panjang, ketimun, kol putih/kubis, bawang merah dan daun bawang.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, semangka, apel, dan telur ayam ras.
Jika pada Oktober 2026, tingkat inflasi y-on-y Provinsi DIY sebesar 3,02 persen, dengan tingkat inflasi y-to-d sebesar 2,08 persen, pada Oktober 2025, tingkat inflasi y-on-y DIY Yogyakarta sebesar 2,90 persen dengan tingkat inflasi y-to-d sebesar 2,18 persen. (Agt/M-01)






