
KETUA Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mendukung Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) Yogyakarta untuk membangun kampus yang lebih representatif di atas lahan seluas 6000 meter persegi.
Terlebih, jelasnya, perguruan tinggi ini kini telah memiliki lebih dari 7000 mahasiswa dari berbagai wilayah. Hal itu diungkapkan Haedar dalam pidatonya pada milad ke-5 dan sekaligus Wisuda ke-2 tahun akademik 2026/2027 di kampus Sibermu.
Ia juga menyambut baik rencana pengelola kampus untuk terus mengembangkan perguruan tinggi yang menyelenggarakan PJJ — pembelajaran jarak jauh dalam kegiatan kesehariannya.
Ia berkeyakinan, Sibermu akan terus bertumbuh dan mampu mengembangkan sarana-prasarana pendidikannya.
“Saya yakin, lima tahun saja sudah menghasilkan lebih dari 7.000 mahasiswa. Maka, saya yakin Sibermu bisa membangun kampus,” kata Haedar Nashir.
Pertahankan identitas
Namun, ujarnya, agar dalam membangun gedung-gedung baru, Sibermu tetap mempertahankan identitasnya sebagai perguruan tinggi yang berbasis siber (cyber).
“Pengembangan kampus tidak harus diwujudkan melalui bangunan fisik yang terlalu besar atau berlebihan, tetapi perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan institusi,” katanya.Haedar Nashir mengingatkan, para mahasiswa berada di institusi pendidikan yang mapan, punya nama, dan penuh kepercayaan.
“Sehingga, nama ‘Siber’ di belakangnya itu yang menjamin kepercayaan,” pesannya.
Di bagian lain, Haedar Nashir mengingatkan saat ini kecerdasan buatan atau Artificial Intelegence (AI) semakin maju dan mampu menunjukkan kecanggihan dan kedigdayaannya.
Duplikasi rasa
Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, AI tidak hanya mampu menduplikasi konstruksi berpikir manusia, bahkan bersamaan dengan itu mampu pula menduplikasi rasa.
“Bahkan, saya baca itu juga sudah mulai meretas bahasa. Dan itulah yang akan membawa produk teknologi dan algoritma berpikir manusia sebenarnya yang dipindahkan pada benda menjadi kekuatan yang digdaya,” katanya.
Ia kemudian menyontohkan, kecanggihan AI di antaranya dapat diperintahkan untuk menyusun buku, meski bukan dengan pemikiran kita sendiri.
“Kita hanya terampil untuk menggunakan berbagai aplikasi dalam tempo yang secepat-cepatnya bisa bikin buku,” imbuhnya.
Kompleksitas imajinasi
Namun berbeda halnya dengan penulis otentik. Ada hal yang tidak bisa dirampas gagasannya oleh Artificial Intelligence, yakni kompleksitas imajinasinya.
Karena itu, imbuhnya lagi di SiberMu itu selain diajarkan berbagai macam ilmu, teknologi yang canggih, tetap ada Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang mengajarkan akhlak karimah, iman, taqarrub ilallah,” tegas Haedar.
Tetap berlandaskan AIK
Sementara itu, Rektor Sibermu, Bambang Riyanta, menjelaskan bahwa berbagai inovasi dan pengembangan teknologi yang dilakukan Sibermu senantiasa berpijak pada nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Kemajuan teknologi tanpa landasan agama, akhlak, dan akidah kata Rektor, berisiko kehilangan nilai kemanusiaannya. Karena itu, setiap inovasi yang dikembangkan Sibermu diarahkan untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Setyobudi Indartono. Ia berharap Sibermu dapat berkontribusi dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia, terutama melalui perluasan akses pendidikan yang didukung teknologi digital.
“Saya yakin Sibermu dalam ekosistem PTMA ini akan terus berkembang dan tumbuh menjadi perguruan tinggi siber berstandar global. Tidak hanya mengakselerasi peningkatan APK nasional,” harapnya. (AGT/M-01)








