
DUA mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Erick Saoutra Rawung (Teknik Mmesin) dan Michelle Carissa Purnama (Teknik Industri) yang tergabung dalam Tim MichEri menawarkan gagasan inovasi bertajuk “The F.O.R.C.E. Architecture” yakni sebuah rancangan sistem pendinginan pusat data yang memanfaatkan panas buangan dari Graphics Processing Unit (GPU) sebagai sumber energi untuk mengoperasikan sistem pendingin.
Gagasan inovasi itu sebenarnya memanfaatkan kembali panas buangan yang selama ini terlepas sebagai sumber energi untuk sistem pendinginan.
Melalui F.O.R.C.E. Architecture, panas buangan GPU dimanfaatkan untuk menggerakkan sistem pendingin berbasis siklus absorpsi LiBr-H₂O. Sistem tersebut dirancang dalam ukuran yang dapat ditempatkan pada rak server dan tidak membutuhkan kompresor listrik sebagai komponen utama.
Satu pompa mikro
Dalam rancangan yang diusulkan, sistem hanya mengandalkan satu pompa mikro berukuran kecil dan diproyeksikan mampu mengurangi konsumsi listrik untuk kebutuhan pendinginan hingga sekitar 95 persen dibandingkan sistem konvensional.
Gagasan ini berhasil meraih Juara 1 sekaligus Best Paper dalam kompetisi esai inovasi tingkat internasional UNLIMITED 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Universitas Diponegoro.
Kompetisi yang berlangsung pada 26 September 2026 tersebut mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Kebutuhan pusat data
Erick Saputra Rawung menjelaskan bahwa gagasan tersebut dikembangkan dengan melihat kebutuhan pusat data yang terus meningkat sekaligus tantangan efisiensi energi yang menyertainya.
“Melalui F.O.R.C.E. Architecture, kami mencoba melihat panas buangan GPU bukan sebagai energi yang terbuang, tetapi sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung sistem pendinginan pusat data,” ujar Erick, Minggu (4/10).
Menurut Erick pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan konsumsi energi, tetapi juga mengintegrasikan prinsip pemanfaatan kembali energi ke dalam desain sistem sejak awal.
Ia mengklaim tawaran inovasi ini mengusung pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan energi pada lingkungan komputasi skala besar.
“Panas yang dihasilkan oleh perangkat komputasi dimanfaatkan kembali untuk menjalankan proses pendinginan, sehingga energi yang sebelumnya terbuang dapat digunakan kembali dalam sistem yang sama,” ujarnya.
Lintas disiplin
Michelle Carissa Purnama menambahkan bahwa pengembangan gagasan tersebut dilakukan dengan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan perspektif teknik mesin dan teknik industri.
“Kami berharap gagasan ini tidak berhenti sebagai konsep dalam kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan melalui kajian dan pengujian lebih lanjut sehingga memiliki peluang untuk diterapkan pada kebutuhan pusat data yang semakin besar,” tutur Michelle.
Kompetisi UNLIMITED 2026 menjadi ruang bagi peserta untuk menawarkan berbagai gagasan inovatif dalam menjawab persoalan yang berkembang di masyarakat dan industri.
Keikutsertaan peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura turut memberikan pengalaman bagi Tim MichEri untuk membawa gagasan mengenai efisiensi energi pusat data ke tingkat internasional.
Proyek pengembangan gagasan
Bagi Tim MichEri, kata Michele, capaian Juara 1 dan Best Paper menjadi bagian dari proses pengembangan gagasan sekaligus pengalaman dalam mengomunikasikan inovasi di hadapan peserta dan penilai dari berbagai latar belakang.
Prestasi tersebut juga menunjukkan potensi kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan gagasan yang merespons tantangan teknologi dan energi yang berkembang secara global.
Ke depan, Tim MichEri berharap F.O.R.C.E. Architecture dapat dikembangkan melalui penelitian dan pengujian lebih lanjut, terutama untuk mengkaji kinerja sistem, efisiensi energi, serta kemungkinan penerapannya pada infrastruktur pusat data.
Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengembangan teknologi komputasi yang lebih efisien dan berkelanjutan. (AGT/A-01)








