
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menilai peta persaingan sepak bola di Asia Tenggara semakin kompetitif. Negara-negara ASEAN terus meningkatkan kualitas tim, termasuk melalui rekrutmen pemain naturalisasi dan pemain dari berbagai negara, sehingga perbedaan kekuatan antar tim yang tersaji di FIFA ASEAN Cup 2026 kian tipis.
Menurut Erick, perkembangan tersebut membuat setiap pertandingan di ajang perdana FIFA di Asia Tenggara ini berlangsung sengit dan menarik. Laga-laga yang mempertemukan tim-tim seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan negara ASEAN lainnya menunjukkan bahwa kawasan ini tidak lagi memiliki pertandingan yang mudah diprediksi.
“Sekarang kualitas permainan negara-negara Asia Tenggara terus meningkat. Setiap tim memiliki kekuatan dan komposisi pemain yang semakin solid,” ujar Erick dalam keterangannya seusai menyaksikan pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Selasa (29/9/2026)
Ia mencontohkan Malaysia yang memiliki skuad dengan pemain dari berbagai negara dan tampil kompak. Menurut Erick, penguatan skuad melalui pemain naturalisasi maupun pemain yang memiliki pengalaman internasional telah mendorong negara-negara ASEAN untuk tampil lebih kompetitif.
“Karena itu, semua pertandingan menjadi sangat penting. Tim yang ingin melaju harus berjuang sejak laga pertama dan tidak boleh menganggap remeh siapa pun,” kata Erick.
Peluang Indonesia Masih Terbuka
Ia juga menegaskan peluang Indonesia di FIFA ASEAN Cup masih terbuka. Namun, peluang tersebut hanya bisa diwujudkan melalui kerja keras, konsistensi, dan fokus penuh di setiap pertandingan.
Ia meminta skuad Garuda tidak terlena oleh hasil-hasil sebelumnya, termasuk ketika menghadapi lawan yang di atas kertas dianggap lebih lemah. Erick mencontohkan hasil pertandingan lain di turnamen yang menunjukkan bahwa kejutan bisa terjadi kapan saja.
“Bangladesh juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Indonesia harus tetap berjuang dan bermain dengan fokus penuh,” ujarnya.
Erick juga mengapresiasi daya juang para pemain Indonesia dalam pertandingan sebelumnya. Meski harus bermain dengan sepuluh pemain, skuad Garuda tetap berusaha hingga akhir pertandingan. Baginya, semangat juang tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan yang semakin rapat di Asia Tenggara.
“Masih ada peluang, tetapi semuanya memiliki risiko. Tidak ada jalan mudah. Para pemain harus terus berjuang dan memberikan kemampuan terbaik,” tutur Erick. (W-01)





