
KABUPATEN Sleman berhasil meraih dua penghargaan, yakni peringkat 3 Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026. Gelar itu diraih oleh Desa Wisata Garongan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman (Skor: 5.260).
Kemudian penghargaan Kategori Khusus (Dampak Ekonomi Terbesar) yang diraih oleh Desa Wisata Pulesari, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman (Skor: 5.100).
Penghargaan tersebut diserahkan pada penganugerahan Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026 yang digelar Dinas Pariwisata DIY, di Bantul, pada Selasa.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengelola Desa Wisata Garongan dan Desa Wisata Pulesari atas prestasi yang telah diraih.
Hasil kerja keras

Menurut Harda keberhasilan ini merupakan bukti nyata dari komitmen serta kerja keras masyarakat dalam memajukan pariwisata berbasis komunitas.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan sekaligus pemicu semangat bagi seluruh pengelola desa wisata di Kabupaten Sleman,” ujar Harda.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Eling Priswanto, menyampaikan bahwa ajang ini dirancang sebagai instrumen evaluasi terpadu untuk mengukur kesiapan tata kelola, pelestarian sosial budaya, dampak ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.
“Pengembangan desa wisata saat ini bergeser dari sekadar kumpulan usaha lokal menjadi satu kesatuan ekosistem kepariwisataan yang holistik. Melalui kompetisi yang sehat ini, perwakilan terbaik dipersiapkan naik kelas menuju sertifikasi internasional berstandar Community-Based Tourism (CBT) ASEAN,” ujarnya.
Harus dimaknai
Ia menambahkan proses penilaian telah berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026 melalui kunjungan lapangan yang dilakukan secara independen oleh tim juri pentahelix tanpa pemberitahuan jadwal kepada peserta. Total hadiah pembinaan yang disiapkan mencapai Rp190 juta.
Sementara itu, Ketua Dewan Juri Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menegaskan pentingnya pemaknaan lomba ini melebihi sekadar kompetisi.
“Lomba ini merupakan instrumen pembelajaran, evaluasi, sekaligus peningkatan mutu pengelolaan destinasi. Yang dinilai bukan hanya keindahan lanskap atau banyaknya wisatawan, tetapi kemampuan komunitas dalam mengelola potensi lokal, membangun kelembagaan yang sehat, serta memastikan manfaat pariwisata kembali kepada masyarakat,” tutur GKR Bendara.
Dia juga berpesan agar para pemenang yang kelak maju ke tingkat nasional dapat membawa praktik baik dan karakter lokal khas Yogyakarta.
Community-Based Tourism
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya menekankan prinsip utama Community-Based Tourism. Menurut Gubernur, masyarakat harus menjadi pelaku utama yang memiliki ruang untuk merencanakan, mengelola, dan mengambil keputusan.
“Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mampu memperkuat ekonomi lokal, menjaga kohesi sosial, merawat kebudayaan, serta melindungi lingkungan sebagai ruang hidup bersama.”
“Saya berharap ajang ini berkembang dari kompetisi menjadi ekosistem pembelajaran antarwilayah, di mana desa yang telah maju dapat berbagi pengalaman dan yang sedang berkembang mendapat ruang untuk belajar,” tegas Gubernur.
Para pemenang Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026:
• Juara 1: Desa Wisata Sidorejo, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo (Skor: 5.280)
• Juara 2: Desa Wisata Kaji, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul (Skor: 5.265)
• Juara 3: Desa Wisata Garongan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman (Skor: 5.260)
• Juara Harapan 1: Desa Wisata Bumi Mataram Pleret, Kabupaten Bantul (Skor: 5.220)
• Juara Harapan 2: Kampung Wisata Taman, Kota Yogyakarta (Skor: 5.215)
• Juara Harapan 3: Desa Wisata Gulurejo, Kabupaten Kulon Progo (Skor: 5.155)
• Kategori Khusus (Dampak Ekonomi Terbesar): Desa Wisata Pulesari, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman (Skor: 5.100) (AGT/M-01)






