
BADAN Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pada Juni 2026 Nilai Tukar Petani (NTP) DIY sebesar 108,34 atau mengalami penurunan sebesar 0,75% dibandingkan Mei.
Penurunan ini, kata Plt. Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih, terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun lebih dalam dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), sehingga daya tukar produk pertanian terhadap kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi petani mengalami pelemahan pada bulan laporan.
Pada Juni 2026, ujarnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) tercatat sebesar 144,82, turun 0,65% dibandingkan Mei 2026.
Penurunan It ini utamanya dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlahkomoditas hasil pertanian, di antaranya cabai rawit, kelapa, cabai merah, dan ayam ras pedaging, yang menekan pendapatan petani dari hasil panen dan ternaknya.
Konsumsi rumah tangga
Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik tipis sebesar 0,10% menjadi 133,67, didorong oleh kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, serta oli/pelumas yang merupakan komponen kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi petani.
“Kombinasi penurunan It dan kenaikan Ib inilah yang menyebabkan NTP Provinsi DIY melemah pada Juni 2026,” jelasnya.
Dalam catatan BPS DIY, lanjut Endang, selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang mengukur kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap biaya produksi dan penambahan barang modal juga mengalami penurunan.
Pada Juni 2026, NTUP tercatat sebesar 112,25, turun 1,42% dibandingkan Mei 2026.Penurunan NTUP ini dipicu oleh naiknya Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal(BPPBM) sebesar 0,79% menjadi 129,02, seiring dengan kenaikan harga bensin, upah pemanenan, bakalan sapi, dan konsentrat pakan ternak.
Tanaman pangan
Kenaikan biaya produksi tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan It sebesar 0,65%, sehingga turut menekan nilai tukar usaha pertanian di Provinsi DIY.
Dikatakan, dari tujuh subsektor yang dipantau, hanya subsektor Tanaman Pangan yang mencatatkan kenaikan NTP, yaitu sebesar 0,99% menjadi 109,04.
Sebaliknya, enam subsektor lainnya mengalami penurunan NTP, dengan Hortikultura mencatat penurunan terdalam sebesar 4,72% menjadi 147,98, diikuti Peternakan yang turun 3,05% menjadi 96,56, Tanaman Perkebunan Rakyat turun 1,34% menjadi 95,58, serta Perikanan turun 0,31% menjadi 95,33 — yang terdiri dari subsektor Nelayan yang turun 1,48% menjadi 125,94 dan Pembudidaya Ikan yang turun 0,24% menjadi 93,60.
Pola serupa, imbuhnya juga terlihat pada Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) menurut subsektor. Tanaman Pangan menjadi satu-satunya subsektor yang mengalami kenaikan NTUP, yaitu sebesar 0,07% menjadi 113,57.
20 provinsi
Subsektor Hortikultura kembali mencatat penurunan terdalam sebesar 5,55 % menjadi 151,04, diikuti Nelayan yang turun 3,98%, Peternakan turun 3,11 %, Tanaman Perkebunan Rakyat turun 2,09%, Pembudidaya Ikan turun 0,33%, dan Perikanan secara keseluruhan turun 0,53% menjadi 100,00.
Secara nasional, dari 38 provinsi yang dipantau pada Juni 2026, sebanyak 18 provinsi mengalami kenaikan NTP, 20 provinsi mengalami penurunan, dan tidak ada provinsi yang nilainya tetap.”DIY termasuk dalam kelompok provinsi yang mengalami penurunan NTP, dengan penurunan sebesar 0,75%,” katanya. (AGT/M-01)








