
MASA yang sedang dialami oleh semua generasi yang ada di zaman sekarang ini adalah kemudahan mempelajari agama. Di layar ponsel ayat-ayat suci berseliweran tanpa jeda, tak hanya teks berhuruf hijaiyah, tetapi juga transliterasi latin yang disertai lantunan tilawah, hadis, ceramah berbagai topik dan lainnya.
Sentuhan jari dapat menentukan pilihan yang akan diakses. Mempelajari agama tak lagi harus jauh. Hadir di saku dan genggaman, 24 jam sehari,
Namun di tengah kemudahan itu, sebuah pertanyaan sunyi menggema, mengapa generasi yang paling mudah mengakses ajaran agama justru dikenal sebagai generasi paling cemas?
Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, dalam program LENTERA: Lembutkan Hati Terangi Ramadan, Kamis (26/2/2026) malam, menjelang tarawih di Masjid kampus setempat.
Ceramah dalam genggaman
Mengusung tema “Paradoks Agama: Relevansi Idealisme dan Praktik Agama bagi Kehidupan Gen Z” Prof. Inayah mengajak jamaah merenungkan ironi zaman digital.
“Kita hidup di era di mana akses terhadap ajaran agama paling mudah sepanjang sejarah, Jika dahulu seseorang harus berjalan berhari-hari demi mempelajari satu ayat Al-Qur’an atau hadis, kini jutaan ceramah dan kutipan keagamaan beredar bebas di berbagai platform digital.
Bahkan mushaf pun telah bertransformasi menjadi aplikasi,” paparnya.
Namun di situlah letak paradoksnya. Di tengah melimpahnya konten agama, generasi muda justru dibayangi kegelisahan. Ia merujuk temuan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang menunjukkan sepertiga remaja usia 10–17 tahun bergulat dengan masalah kesehatan mental.
Kecemasan konstan
“Jika ada 30 remaja duduk bersama di masjid ini, sekitar 10 di antaranya mungkin sedang menyembunyikan luka batin,” katanya.
Data global pun senada. Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey mencatat 46 persen Gen Z hidup dalam kecemasan konstan. Sementara riset Royal Society for Public Health menunjukkan paparan berlebih pada media sosial visual berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, hingga krisis kepercayaan diri.
Bagi Prof. Inayah, persoalannya bukan semata pada teknologi, melainkan pada cara agama diposisikan. “Di era digital, agama sering terjebak menjadi simbol identitas sosial, komoditas konten, bahkan alat validasi,” tuturnya.
Vokal di ruang virtual
Prof. Inayah menambahkan, ironi lain muncul dalam tradisi keberagamaan yang serba instan. Video satu menit kerap menjadi rujukan halal-haram. Pemahaman terpotong-potong melahirkan penghakiman cepat, bahkan mudah menyesatkan pihak berbeda.
“Tradisi asal forward pesan keagamaan tanpa jelas sanad dan penulisnya juga semakin marak. Pesan bernada kebencian dibagikan seolah itu bentuk kesalehan,” katanya. Agama, lanjutnya, menjadi vokal di ruang virtual, tetapi gersang di hati.
Lantas bagaimana mengembalikan relevansi agama bagi Gen Z? Prof. Inayah menegaskan, agama tidak boleh berhenti pada ritual formal atau semangat fikih yang kaku. Ia harus hadir sebagai solusi mental, psikologis, dan sosial, sebagai ultimate healing bagi generasi yang lelah oleh FOMO, burnout, dan overthinking.
Mencharge jiwa
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini, mengibaratkan Ramadan sebagai charging station bagi jiwa. “Seperti ponsel yang perlu di-recharge, kita pun butuh jeda untuk mengisi ulang batin,” ujarnya.
Momentum ini, katanya, dapat diwujudkan dalam beberapa langkah konkret.
Pertama, menjadikan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan jempol dari komentar menyakitkan serta menahan diri dari membandingkan “panggung belakang” kehidupan sendiri dengan “panggung depan” orang lain di media sosial.
Kedua, beranjak dari layar menuju realitas. “Kehadiran fisik di masjid, shaf tarawih yang rapat, sapaan hangat kepada sesama jamaah, semuanya adalah praktik mindfulness yang mampu meredakan kesepian dan kecemasan,” katanya.
Selanjutnya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai jangkar di tengah derasnya arus informasi dan hoaks. “Membaca dengan perlahan, merenungkan makna, dan mengamalkannya sebagai pegangan hidup, bukan sekadar materi unggahan,” tegasnya.
Pengendalian diri
Langkah yang harus kita ambil berikutnya, menurut Prof Inayah adalah membangun kekuatan dari dalam diri. Tidak menunggu validasi eksternal, melainkan mengendalikan pikiran, sikap, dan tindakan sendiri.
Ia juga mengingatkan agar teknologi tidak mengalahkan kebijaksanaan manusia dengan berupaya pelan-pelan mengakhiri paradoks ini. “Jangan sampai ponsel kita lebih pintar daripada penggunanya. Jangan sampai timeline media sosial kita tampak lebih saleh daripada akhlak kita di dunia nyata,” ucapnya.
Ramadan, menurutnya, adalah momentum “install ulang” perangkat lunak jiwa, mentransformasi agama dari sekadar teks dan konten menjadi konteks dan tuntunan hidup. Dari tontonan yang mencemaskan, menjadi jalan pulang yang menenangkan. (AGT/M-03)









