Kebenaran Dikubur Hidup-hidup

  • Opini
  • December 6, 2025
  • 0 Comments

KEBENARAN bukanlah kebenaran apabila dengan sengaja diselewengkan. Hari ini, kebenaran di negeri ini, bukan lagi sekadar diselewengkan tapi diperkosa berulang-ulang, lalu dipaksa tersenyum sebagai tanda “proses demokrasi berjalan baik”.

Politik kita telah berubah menjadi gelanggang di mana fakta tidak penting, tidak perlu diperiksa, langsung diumbar ke masyarakat untuk diperdagangkan. Di pasar politik kita, tuduhan lebih berharga daripada bukti; teriakan lebih dipercaya daripada dokumen.

Kasus ijazah palsu itu bukan soal ijazah. Itu hanya umpan. Yang diburu adalah kehormatan seseorang, reputasi yang ingin mereka lumatkan di tengah keramaian, supaya sorak penonton menutupi kehampaan moral mereka sendiri.

Padahal lembaga yang menerbitkan ijazah sudah bicara. Sudah menjelaskan. Sudah mengonfirmasi. Tetapi apa gunanya kebenaran di hadapan orang yang tidak berkepentingan pada kebenaran? Di tangan para politisi busuk, klarifikasi hanya dianggap salah satu episode yang harus dilewati sebelum episode berikutnya: fitnah baru.

BACA JUGA  MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

Intervensi

Dan ketika perkara itu dibawa ke pengadilan, naskah drama sudah selesai ditulis. Majelis hakim belum duduk, tetapi sudah dituduh berpihak. Sidang baru dibuka, tetapi sudah divonis cacat hukum. Putusan belum keluar, tetapi sudah digembar-gemborkan majelis hakim diintervensi.

Inilah puncak arogansi politik: mereka tidak menunggu hasil sidang, karena mereka tidak pernah membutuhkan kebenaran. Mereka hanya membutuhkan alasan untuk menghancurkan.

Hukum bagi mereka bukan institusi; hanya palu yang harus mereka genggam agar bisa memukul siapa pun yang menghalangi jalan.

Bangsa yang membiarkan kebusukan berkuasa adalah bangsa yang menggadaikan masa depannya sendiri. Hari ini, kita melihat kebenaran dikubur hidup-hidup oleh orang-orang yang takut pada cermin. Mereka menjerit tentang moralitas sambil menggenggam belati di balik punggung.

BACA JUGA  MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

Tentang dendam

Begitulah politik kita. Bukan tentang apa yang benar, tetapi siapa yang harus dihancurkan. Bukan tentang keadilan, tetapi tentang dendam yang dipoles menjadi opini publik. Bukan tentang masa depan negeri, tetapi tentang ambisi kecil  dan keuntungan yang dibungkus bendera.

Dan selama kebenaran terus diperlakukan sebagai musuh, negeri ini akan tetap berjalan seperti orang pincang yang memaksa berlari: jatuh, bangkit, jatuh lagi, karena kebenaran yang seharusnya menuntun telah ditinggalkan di belakang oleh mereka yang tidak ingin dihampiri olehnya.  (N-01)

(Mathias Berahmana)

BACA JUGA  MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

Dimitry Ramadan

Related Posts

Anak Muda Disebut Makin Rentan Kena Gangguan Mental

ANAK MUDA dengan rentang usia 15 hingga 24 tahun khususnya perempuan banyak yang mengalami depresi. Hal itu karena terjadi pada saat mereka berada pada masa quarter-life crisis. Namun yang disayangkan…

Kasus Korupsi HGB ATR/BPN, Monopoli Kewenangan dan Lemahnya Sistem

KASUS dugaan korupsi penyalahgunaan pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kementerian Agraria/Tata Ruang Nasional semakin menunjukkan betapa pentingnya penguatan transparansi dan pengawasan publik terhadap administrasi pertanahan. Monopoli kewenangan yang dimiliki…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

  • October 6, 2026
MK Putuskan tidak Terima Gugatan Ijazah Gibran

UI Jadi Kampus Terbaik Indonesia versi QS WUR

  • October 6, 2026
UI Jadi Kampus Terbaik Indonesia versi QS WUR

Serah Terima Pataka Tandai Pergantian Kapolda Jateng

  • October 6, 2026
Serah Terima Pataka Tandai Pergantian Kapolda Jateng

Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ranking Timnas Indonesia Naik Satu Tingkat

  • October 6, 2026
Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ranking Timnas Indonesia Naik Satu Tingkat

Peternak Ayam Ketawa Diimbau Mewaspadai Risiko Inbreeding

  • October 6, 2026
Peternak Ayam Ketawa Diimbau Mewaspadai Risiko Inbreeding

Gelar Festival, Unisa Utamakan Konsep Ramah Lingkungan

  • October 6, 2026
Gelar Festival, Unisa Utamakan Konsep Ramah Lingkungan