
KEBENARAN bukanlah kebenaran apabila dengan sengaja diselewengkan. Hari ini, kebenaran di negeri ini, bukan lagi sekadar diselewengkan tapi diperkosa berulang-ulang, lalu dipaksa tersenyum sebagai tanda “proses demokrasi berjalan baik”.
Politik kita telah berubah menjadi gelanggang di mana fakta tidak penting, tidak perlu diperiksa, langsung diumbar ke masyarakat untuk diperdagangkan. Di pasar politik kita, tuduhan lebih berharga daripada bukti; teriakan lebih dipercaya daripada dokumen.
Kasus ijazah palsu itu bukan soal ijazah. Itu hanya umpan. Yang diburu adalah kehormatan seseorang, reputasi yang ingin mereka lumatkan di tengah keramaian, supaya sorak penonton menutupi kehampaan moral mereka sendiri.
Padahal lembaga yang menerbitkan ijazah sudah bicara. Sudah menjelaskan. Sudah mengonfirmasi. Tetapi apa gunanya kebenaran di hadapan orang yang tidak berkepentingan pada kebenaran? Di tangan para politisi busuk, klarifikasi hanya dianggap salah satu episode yang harus dilewati sebelum episode berikutnya: fitnah baru.
Intervensi
Dan ketika perkara itu dibawa ke pengadilan, naskah drama sudah selesai ditulis. Majelis hakim belum duduk, tetapi sudah dituduh berpihak. Sidang baru dibuka, tetapi sudah divonis cacat hukum. Putusan belum keluar, tetapi sudah digembar-gemborkan majelis hakim diintervensi.
Inilah puncak arogansi politik: mereka tidak menunggu hasil sidang, karena mereka tidak pernah membutuhkan kebenaran. Mereka hanya membutuhkan alasan untuk menghancurkan.
Hukum bagi mereka bukan institusi; hanya palu yang harus mereka genggam agar bisa memukul siapa pun yang menghalangi jalan.
Bangsa yang membiarkan kebusukan berkuasa adalah bangsa yang menggadaikan masa depannya sendiri. Hari ini, kita melihat kebenaran dikubur hidup-hidup oleh orang-orang yang takut pada cermin. Mereka menjerit tentang moralitas sambil menggenggam belati di balik punggung.
Tentang dendam
Begitulah politik kita. Bukan tentang apa yang benar, tetapi siapa yang harus dihancurkan. Bukan tentang keadilan, tetapi tentang dendam yang dipoles menjadi opini publik. Bukan tentang masa depan negeri, tetapi tentang ambisi kecil dan keuntungan yang dibungkus bendera.
Dan selama kebenaran terus diperlakukan sebagai musuh, negeri ini akan tetap berjalan seperti orang pincang yang memaksa berlari: jatuh, bangkit, jatuh lagi, karena kebenaran yang seharusnya menuntun telah ditinggalkan di belakang oleh mereka yang tidak ingin dihampiri olehnya. (N-01)
(Mathias Berahmana)









