
PRESIDEN Prabowo Subianto menyoroti praktik beras oplosan beredar di masyarakat dinilai sebagai kejahatan ekonomi serius. Menurut laporan yang diterimanya, kerugian negara akibat praktik ini mencapai Rp100 triliun setiap tahun.
“Saya dapat laporan, kerugian yang dialami bangsa Indonesia mencapai Rp100 triliun per tahun. Itu berarti Rp1.000 triliun dalam lima tahun. Ini kejahatan ekonomi luar biasa. Menurut saya ini sudah termasuk subversi ekonomi, menikam rakyat,” tegas Prabowo saat menutup Kongres PSI 2025 di Jakarta, Minggu (20/7).
Prabowo menambahkan, jika dana sebesar itu dimanfaatkan secara tepat, maka pengentasan kemiskinan bisa tercapai dalam waktu singkat.
“Bayangkan saja, dengan Rp1.000 triliun dalam lima tahun, mungkin kita bisa hilangkan kemiskinan,” ujarnya.
Ia juga melaporkan bahwa cadangan beras pemerintah kini mencapai lebih dari 4,2 juta ton. Sementara itu, produksi jagung naik 30 persen dan beras naik 48 persen.
Ciri-Ciri Beras Oplosan
Mengutip keterangan Prof. Tajuddin Bantacut dari IPB University, beras oplosan bisa dikenali secara kasat mata. Ciri-cirinya antara lain warna butiran beras tidak seragam, ukuran berbeda-beda, serta tekstur nasi yang lembek setelah dimasak.
Dalam beberapa kasus, beras oplosan juga dicampur dengan bahan tambahan seperti pewarna atau pengawet berbahaya, yang berisiko terhadap kesehatan jika dikonsumsi jangka panjang.
Tiga jenis beras yang dikaitkan dengan praktik oplosan di antaranya:
- Beras campuran yang dicampur bahan lain seperti jagung.
- Beras blended, yakni campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur.
- Beras rusak yang dipoles ulang agar tampak bagus, meski mutunya sudah menurun.
Pemerintah diharapkan terus memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap praktik ini demi menjaga keamanan pangan dan melindungi konsumen. (*/S-01)







