MTI Kritisi Layanan Penyebrangan Lintas Utama

MASYARAKAT Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti layanan penyebrangan lintas utama yang mengalami stagnasi dan keterbatasan fasilitas, berikut usia kapal yang sudah tua dan kurang memenuhi standar keamanan.

“Sejumlah lintas utama penyeberangan mengalami stagnasi dan keterbatasan fasilitas, bahkan usia kapal sudah tua, seperti di Merak –  Bakauheni, Ketapang – Banyuwangi maupun Padang Bai – Lembar,” kata Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah MTI Pusat, Djoko Setijowarno, Senin (10/6) malam di Solo.

MTI, lanjut dia, menilai sejumlah infrastruktur transportasi yang terbangun sejauh ini belum merata, dan masih terjadi kesenjangan, antara wilayah timur dan barat. Nampak pemerintah masih mengalami sejumlah kendala untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Keberadaan Direktorat Keselamatan Transportasi Darat dan Direktorat Jenderal Transportasi Perkotaan di Kementerian Perhubungan harus bekerja lebih keras, guna mengurai tantangan dan kendala.

“Masih cukup besar tantangan dan kendala untuk menggapai Indonesia Emas 2045 di sektor transportasi. Kalau melihat Kajian Bappenas, konektivitas yang menghubungkan jaringan (backbone) antarpulau belum optimal,” sambungnya.

BACA JUGA  Daop 6 Yogyakarta Capai Pertumbuhan 8% pada Triwulan I 2026

Sejauh ini muatan balik dari Kawasan Timur Indonesia masih rendah. Rata-rata muatan datang 100%, namun muatan balik kapal di Kawasan Timur sebesar 30%.

Rendahnya muatan atau load factor itu terjadi, karena masih terbatasnya kawasan ekonomi di Indonesia Timur dan juga  belum terbentuk konsolidasi rute yang optimal, dan layanan perintis, baik itu Public Service Obligation (PSO) laut, penyeberangan, udara dan darat juga belum terintegrasi secara baik.

Hal itulah yang membuat ongkos pelayaran domestik selama ini menjadi lebih mahal dibanding pelayaran internasional.

“Pengiriman barang antar wilayah Indonesia mahal dan menghadapi berbagai kendala.  Kinerja pelabuhan belum optimal dan penggunaan kapal kebanyakan berukuran kecil,” kata pengamat dari Universitas Katholik Soegijopranoto Semarang itu.

MTI juga mengkritisi sektor transportasi udara. Mereka menilai kondisi bandara utama dan feeder belum memenuhi standar, namun tarif penerbangan domestik yang  semakin tinggi, terutama di  Kawasan Timur.

BACA JUGA  Polres Wonosobo Gencar Cegah Balon Udara Liar

Banyak wilayah menurut Djoko Setijowarno belum terakses layanan transportasi udara dengan baik. Saat ini lebih dari 50% bandara di Indonesia belum memenuhi standar teknis dan layanan.

“On time performance penerbangan domestik jauh dibawah negara lain di dunia. Pengaturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) tiket pesawat perlu ditinjau ulang. Cakupan layanan perintis udara masih terbatas dan hanya duopoli maskapai,” papar dia.

Banyak hal yang dikritisi MTI menyangkut sektor transportasi nasional. Bahkan disebutkan, biaya transportasi masih menjadi kontributor terbesar dalam biaya logistik nasional.

Sektor logistik

Hasil kajian Biaya Logistik SIRI pada 2022 menyebutkan biaya logistik mencapai 14,1% terhadap harga barang. Dari angka prosentase itu,  80% biaya logistik disumbang oleh sektor transportasi.

Transportasi darat ,termasuk kereta api  berkontribusi tertinggi, yakni mencapai 50%. Ini mengindikasikan bahwa  performa logistik Indonesia masih belum optimal.

BACA JUGA  Indosat dan Garuda Indonesia Kolaborasi Teknologi

MTI mencermati, kinerja logistik Indonesia masih di bawah negara ASEAN lainnnya. Kinerja infrastruktur transportasi multimoda masih terbatas. Kinerja pelabuhan utama di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Hasil kajian yang dilakukan Kementerian PUPR pada 2022 menunjukkan, waktu tempuh pada lintas utama pulau masih tinggi. Waktu tempuh pada lintas utama di Indonesia 2,1 jam per 100 km. Bandingkan dengan Vietnam 1,5 jam per 100 km, Thailand (1 jam per 100 km), China (0,9 jam per 100 km) dan Malaysia (0,7 jam per 100 km).

Pada bagian lain, kajian yang dilakukan Kementerian Perhubungan juga menyebutkan moda Kereta Api belum diminati untuk mendukung angkutan logistik. Pangsa KA logistik masih di bawah 1 persen. (WID/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

WAKIL Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X  resmi membuka gelaran Jogja Fashion Week (JFW) XXI 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Sleman, pada Kamis (13/08). Ajang itu diharapkan jadi…

Presiden Usulkan Calon Tunggal untuk Gubernur BI

MENTERI Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sudah mengusulkan satu nama untuk calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Usulan itu sudah disampaikan melalui Surat Presiden ke pimpinan DPR…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Kapal Induk Garibaldi Dipastikan Tiba di Tanah Air Tepat Waktu

  • August 14, 2026
Kapal Induk Garibaldi Dipastikan Tiba di Tanah Air Tepat Waktu

Bali United Dapat Pelajaran dari Sabah FC

  • August 14, 2026
Bali United Dapat Pelajaran dari Sabah FC

Pertahankan Piala Super, PSG Masuk Jajaran Klub Elite Eropa

  • August 13, 2026
Pertahankan Piala Super, PSG Masuk Jajaran Klub Elite Eropa

Xavi Hernandez Antusias Ditunjuk Jadi Arsitek Belanda

  • August 13, 2026
Xavi Hernandez Antusias Ditunjuk  Jadi Arsitek  Belanda

BKHIT Canangkan Gerakan Bebas Botol Plastik di Lingkungan Kerja

  • August 13, 2026
BKHIT Canangkan Gerakan Bebas Botol Plastik di Lingkungan Kerja

DKD Garda Prabowo Jatim Apresiasi Aksi Ketua DKC Garda Prabowo

  • August 13, 2026
DKD Garda Prabowo Jatim Apresiasi Aksi Ketua DKC Garda Prabowo