MTI Kritisi Layanan Penyebrangan Lintas Utama

MASYARAKAT Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti layanan penyebrangan lintas utama yang mengalami stagnasi dan keterbatasan fasilitas, berikut usia kapal yang sudah tua dan kurang memenuhi standar keamanan.

“Sejumlah lintas utama penyeberangan mengalami stagnasi dan keterbatasan fasilitas, bahkan usia kapal sudah tua, seperti di Merak –  Bakauheni, Ketapang – Banyuwangi maupun Padang Bai – Lembar,” kata Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah MTI Pusat, Djoko Setijowarno, Senin (10/6) malam di Solo.

MTI, lanjut dia, menilai sejumlah infrastruktur transportasi yang terbangun sejauh ini belum merata, dan masih terjadi kesenjangan, antara wilayah timur dan barat. Nampak pemerintah masih mengalami sejumlah kendala untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Keberadaan Direktorat Keselamatan Transportasi Darat dan Direktorat Jenderal Transportasi Perkotaan di Kementerian Perhubungan harus bekerja lebih keras, guna mengurai tantangan dan kendala.

“Masih cukup besar tantangan dan kendala untuk menggapai Indonesia Emas 2045 di sektor transportasi. Kalau melihat Kajian Bappenas, konektivitas yang menghubungkan jaringan (backbone) antarpulau belum optimal,” sambungnya.

BACA JUGA  Bandara Adisutjipto Layani 118 Ribu Penumpang, Naik 2 Persen

Sejauh ini muatan balik dari Kawasan Timur Indonesia masih rendah. Rata-rata muatan datang 100%, namun muatan balik kapal di Kawasan Timur sebesar 30%.

Rendahnya muatan atau load factor itu terjadi, karena masih terbatasnya kawasan ekonomi di Indonesia Timur dan juga  belum terbentuk konsolidasi rute yang optimal, dan layanan perintis, baik itu Public Service Obligation (PSO) laut, penyeberangan, udara dan darat juga belum terintegrasi secara baik.

Hal itulah yang membuat ongkos pelayaran domestik selama ini menjadi lebih mahal dibanding pelayaran internasional.

“Pengiriman barang antar wilayah Indonesia mahal dan menghadapi berbagai kendala.  Kinerja pelabuhan belum optimal dan penggunaan kapal kebanyakan berukuran kecil,” kata pengamat dari Universitas Katholik Soegijopranoto Semarang itu.

MTI juga mengkritisi sektor transportasi udara. Mereka menilai kondisi bandara utama dan feeder belum memenuhi standar, namun tarif penerbangan domestik yang  semakin tinggi, terutama di  Kawasan Timur.

BACA JUGA  Kemenag: Perubahan Slot 46 Kloter karena Garuda Lambat, OTP juga Buruk

Banyak wilayah menurut Djoko Setijowarno belum terakses layanan transportasi udara dengan baik. Saat ini lebih dari 50% bandara di Indonesia belum memenuhi standar teknis dan layanan.

“On time performance penerbangan domestik jauh dibawah negara lain di dunia. Pengaturan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) tiket pesawat perlu ditinjau ulang. Cakupan layanan perintis udara masih terbatas dan hanya duopoli maskapai,” papar dia.

Banyak hal yang dikritisi MTI menyangkut sektor transportasi nasional. Bahkan disebutkan, biaya transportasi masih menjadi kontributor terbesar dalam biaya logistik nasional.

Sektor logistik

Hasil kajian Biaya Logistik SIRI pada 2022 menyebutkan biaya logistik mencapai 14,1% terhadap harga barang. Dari angka prosentase itu,  80% biaya logistik disumbang oleh sektor transportasi.

Transportasi darat ,termasuk kereta api  berkontribusi tertinggi, yakni mencapai 50%. Ini mengindikasikan bahwa  performa logistik Indonesia masih belum optimal.

BACA JUGA  Polda Jabar Disarankan Tiru Polres Batang dan Jambi saat Terjadi Kecelakaan Bus

MTI mencermati, kinerja logistik Indonesia masih di bawah negara ASEAN lainnnya. Kinerja infrastruktur transportasi multimoda masih terbatas. Kinerja pelabuhan utama di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Hasil kajian yang dilakukan Kementerian PUPR pada 2022 menunjukkan, waktu tempuh pada lintas utama pulau masih tinggi. Waktu tempuh pada lintas utama di Indonesia 2,1 jam per 100 km. Bandingkan dengan Vietnam 1,5 jam per 100 km, Thailand (1 jam per 100 km), China (0,9 jam per 100 km) dan Malaysia (0,7 jam per 100 km).

Pada bagian lain, kajian yang dilakukan Kementerian Perhubungan juga menyebutkan moda Kereta Api belum diminati untuk mendukung angkutan logistik. Pangsa KA logistik masih di bawah 1 persen. (WID/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Nelayan Mitra Undip Sukses Ekspor Ikan Teri ke Jepang dan Singapura

PROGRAM ekspor ikan teri nasi yang dijalankan CV Karimun Mina Sejahtera, mitra binaan Universitas Diponegoro (Undip), ke Jepang dan Singapura memberikan dampak positif bagi masyarakat pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura).…

Indonesia Siap Stop Impor Solar Setelah Mandatori B50 Bulan Depan

INDONESIA siap menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tahun ini setelah mandatori biodiesel 50 persen (B50) pada Juli nanti. Hal tersebut diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Nelayan Mitra Undip Sukses Ekspor Ikan Teri ke Jepang dan Singapura

  • June 29, 2026
Nelayan Mitra Undip Sukses Ekspor Ikan Teri ke Jepang dan Singapura

Pemkot Bandung Kebut Perbaikan Infrastruktur Bandara Husein

  • June 29, 2026
Pemkot Bandung Kebut Perbaikan Infrastruktur Bandara Husein

UPN Veteran Yogyakarta Tetapkan 4 Nama Balon Rektor

  • June 29, 2026
UPN Veteran Yogyakarta Tetapkan 4 Nama Balon Rektor

Kades Baru Damarsi Janji Kawal Kasus TKD yang Diusut Kejari Sidoarjo

  • June 29, 2026
Kades Baru Damarsi Janji Kawal Kasus TKD yang Diusut Kejari Sidoarjo

BULOG Tarik Seluruh MinyaKita Produksi PT KMR yang Diduga Berbau Solar

  • June 29, 2026
BULOG Tarik Seluruh MinyaKita Produksi PT KMR yang Diduga Berbau Solar

Ribuan Warga Sidoarjo Gelar Aksi Damai, Desak Program MBG Dilanjutkan

  • June 29, 2026
Ribuan Warga Sidoarjo Gelar Aksi Damai, Desak Program MBG Dilanjutkan