
MPOX varian terbaru clade 1b di Asia Tenggara jaul lebih ganas dan cepat menyebar.
Dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, dr. Eggi Arguni menyampaikan hal itu dalam TropmedAsk yang diadakan PKT UGM, Selasa (8/10).
“WHO pada pertengahan Agustus lalu telah menetapkan keadaan darurat global,” kata Eggi Arguni yang juga peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada.
Peringatan WHO ini menyusul meluasnya sebaran penyakit mpox yang disebabkan monkeypox virus di Republik Demokratik Kongo dan negara-negara Afrika lainnya.
Mpox varian baru disebabkan oleh infeksi virus Monkeypox. Virus ini menurut Eggi, berasal dari genus yg sama (Orthopoxvirus) dengan virus Variola, penyebab cacar/small pox.
“Padahal cacar telah dinyatakan eliminasinya sejak 1980. Kedekatan dua virus ini menyebabkan tanda dan gejala kedua penyakit ini pun mirip,” katanya.
Dengan tegas Eggi menyatakan kemunculkan mpox ini tidak ada kaitannya dengan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia.
“Mpox sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyebaran nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia baik yang dahulu dilakukan di Yogyakarta maupun di kota-kota lainnya,” ujarnya.
Peringatan WHO ini menyusul meluasnya sebaran penyakit mpox yang disebabkan monkeypox virus (MPXV) terutama di Republik Demokratik Kongo dan negara-negara Afrika lainnya
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Monkeypox. Berasal dari genus yang sama dengan virus Variola, penyebab cacar/small pox.
“Padahal cacar telah dinyatakan eliminasinya sejak 1980. Kedekatan dua virus ini menyebabkan tanda dan gejala kedua penyakit ini pun mirip,” katanya.
Dengan tegas Eggi menyatakan kemunculkan mpox ini tidak ada kaitannya dengan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia.
Mpox diawali gejala-gejala yang mirip dengan penyakit-penyakit infeksi virus seperti demam, lemas, badan ngilu, dan nyeri kepala.
Namun beberapa hari kemudian muncul tanda di kulit di wajah, telapak tangan dan kaki.
Awalnya berbentuk titik berwarna kemerahan, lalu terjadi peninggian kulit yang berisi cairan jernih.
Cairan tersebut kemudian berubah menjadi keruh dan akhirnya mengering meninggalkan bekas disebut keropeng.
Penularan Mpox Varian Baru
Ia menjelaskan terdapat dua jenis penularan Mpox. “Awalnya (Mpox) merupakan penyakit zoonosis, ditularkan oleh hewan ke manusia,” jelas dr. Eggi.
Namun, lama kelamaan virus Mpox dapat menular dari manusia ke manusia lain tanpa perantara hewan.
Penyebarannya bisa secara langsung melalui droplet yang keluar saat pasien Mpox bersin, batuk atau beriak.
Mpox juga bisa ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, baik oral, vaginal maupun anal.
“Selain itu, Mpox juga bisa tertular secara tidak langsung,” lanjut dr. Eggi.
Penularan yang dimaksud ini adalah penularan melalui perantara.
dr. Eggi memberikan contoh droplet pasien jatuh dan menempel di benda-benda sekitar dan terpegang oleh orang lain.
Tangan tersebut kemudian menyentuh mulut hidung atau mata, maka virus dapat tertular.
Bahkan berbagi alat makan juga memungkinkan terjadinya penularan.
Karena penularan terjadi melalui droplet, maka penggunaan masker dan cuci tangan menggunakan sabun efektif untuk mencegah terjadinya penularan.
Tindakan pencegahan lainnya adalah melalui vaksin yang menggunakan komponen utama yang sama dengan vaksin untuk variola.
Meski demikian, berbeda dengan vaksin Covid-19, vaksin Mpox tidak diberikan secara massal untuk masyarakat.
“Vaksin Mpox hanya diberikan kepada populasi khusus, kelompok orang-orang yang berisiko,” pungkasnya, (AGT/S-01)







