
MUDIK Lebaran adalah tradisi tahunan di Indonesia di mana masyarakat yang merantau kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang, terkait dengan faktor sosial, budaya, dan ekonomi.
Asal Usul Mudik Lebaran
- Tradisi Pulang Kampung di Zaman Kerajaan
Istilah mudik berasal dari bahasa Jawa, yaitu mulih dilik, yang berarti “pulang sebentar.” Pada zaman kerajaan, terutama di Jawa, masyarakat desa yang merantau ke kota untuk bekerja atau berdagang sering kembali ke desa asalnya untuk mengunjungi keluarga dan leluhur, terutama saat ada perayaan penting. - Pengaruh Islam dan Perayaan Idul Fitri
Dengan masuknya Islam ke Nusantara, perayaan Idul Fitri menjadi momen penting untuk berkumpul dengan keluarga dan mempererat silaturahmi. Konsep kembali ke asal atau fitrah dalam Idul Fitri juga selaras dengan keinginan banyak orang untuk kembali ke kampung halaman setelah merantau. - Perkembangan Kota dan Urbanisasi
Pada masa kolonial dan setelah kemerdekaan, urbanisasi di Indonesia meningkat pesat. Banyak orang pindah ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung untuk mencari pekerjaan. Namun, saat Idul Fitri, mereka merasa perlu kembali ke kampung halaman untuk merayakan bersama keluarga, yang kemudian melahirkan tradisi mudik modern. - Mudik Sebagai Fenomena Sosial-Ekonomi
Selain sebagai tradisi keagamaan dan budaya, mudik juga memiliki dampak ekonomi yang besar. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan darat, laut, dan udara, yang berdampak pada sektor transportasi, pariwisata, serta perputaran ekonomi di daerah asal pemudik.
Saat ini, mudik tidak hanya dilakukan oleh pekerja biasa, tetapi juga oleh pejabat, pengusaha, dan masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi. Pemerintah pun sering kali menyiapkan program khusus seperti mudik gratis dan infrastruktur jalan tol untuk mengakomodasi tradisi ini. (*/S-01)