
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi tsunami akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara (Malut)-Sulawesi Utara (Sulut) sudah berakhir.
Meski begitu masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah. Masyarakat juga diimbau dan tidak terpengaruh kabar hoaks.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan peringatan dini tsunami resmi diakhiri setelah pemantauan menunjukkan kondisi laut kembali stabil.
“Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa magnitudo 7,6 dinyatakan telah berakhir pukul 09.56 Wita,” ujarnya, Kamis.
Gempa dangkal
Dia menilai pengumuman pemberhentian peringatan dini tersebut sangat penting karena dengan begitu tim petugas gabungan sudah bisa masuk ke lokasi terdampak.
Sebelumnya gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang berpusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Kota Bitung (Sulut) terdeteksi pada kedalaman 33 kilometer.
Gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Satu korban
Menurut Humas Basarnas Sulawesi Utara (Sulut) Nuriadin Gumeleng, pihaknya masih terus melakukan bersih-bersih.
“Sementara ini kami mmbersihkan puing reruntuhan bangunan Gedung KONI,” katanya.
Untuk korban jiwa usai gempa bumi Kamis pagi, kata dia, satu orang meninggal dunia, sementara satu korban lainnya patah kaki karena melompat.
“Korban yang mengalami cedera patah kaki sudah mendapat penanganan,” ujarnya.
Basarnas Sulawesi Utara, kata dia, tetap bersiaga dan terus memutakhirkan data korban ataupun kerusakan akibat gempa. (*/A-01)







