
BELASAN ribu perangkat desa mulai dari lurah hingga perangkat desa bersama masyarakat menggelar kirab dan sowan (menghadap) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kagunan Dalem Pagelaran Kraton Yogyakarta, Kamis.
Kegiatan yang melibatkan perwakilan dari 438 kalurahan di kabupaten dan kelurahan di Kota Yogyakarta ini diselenggarakan dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem, atau ambal warsa atau ulang tahun ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X.
Setiap kalurahan mengirim 20 hingga 30 orang perwakilan. Para peserta membawa aneka hasil bumi dan potensi unggulan dari wilayah masing-masing dikenal dengan istilah gelondong pengarem-arem sebagai bentuk simbolis penghormatan.
Sesuai potensi desa

Hasil bumi yang dipersembahkan ini beraneka macam sesuai dengan potensi desa, antara lain singkong, pepaya, beras, ketela, kelapa, hingga uwi dan sayur-mayur, bahkan unggas seperti burung, ayam, itik, entok dan lainnya.
Di antara gelondong pengarem-arem yang dibawa ini adalah gunungan bawang merah seberat 1 kuintal yang dipersembahkan Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Bantul.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY (Nayantaka), Gandang Hardjanta, menjelaskan momentum ini adalah wujud penghormatan serta ungkapan terima kasih masyarakat kepada sosok pemimpin mereka.
“Ini adalah wujud terima kasih kami kepada Ngarsa Dalem, ya bahwa di usia 80 tahun masih mengayomi kami, masih mengayomi segenap masyarakat DIY secara luas. Dan pada kesempatan ini yang utama adalah kami masyarakat Jogja mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ngarsa Dalem yang ke-80. Itu yang paling penting,” ungkap Gandang.
Didistribusikan lagi ke masyarakat

Gandang yang kesehariannya menjabat sebagai Lurah Tamanmartani, Kalasan, Sleman mengungkapkan hasil bumi yang dihaturkan kepada Kraton Yogyakarta tidak akan dinikmati secara sepihak oleh Kraton.
Seluruh hasil bumi tersebut akan didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pemerintah daerah di tingkat kabupaten.
“Jadi gelondong pengarem-arem itu betul kita haturkan ke Keraton, tetapi dari Kraton dibagikan bagi yang membutuhkan melalui Bapak/Ibu Bupati. Bukan untuk Kraton, melainkan dikembalikan lagi ke masyarakat,” katanya.
Tidak ada paksaan
Gandang memastikan bahwa partisipasi setiap kalurahan murni didasarkan pada keikhlasan dan kemampuan masing-masing wilayah, tanpa ada unsur paksaan yang memberatkan.
“Ya, kalau kami dari Nayantaka itu sekitar dua bulan kami harus melobi Pemda, melobi kabupaten, juga teman-teman lurah. Alhamdulillah sambutan dari teman-teman cukup baik, tidak ada unsur paksaan, karena mereka sadar bahwa mereka ini sebagai kalurahan sudah dipercaya anggaduh (mengelola) Tanah Kas Desa,” jelasnya.
Tanah Kas Desa, katanya merupakan tanah Kraton Yogyakarta yang dikelola oleh desa dan telah memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi pendapatan desa.
Minta maaf
Gandang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat sekaligus memohon maaf kepada masyarakat luas apabila kegiatan kirab inimenimbulkan sedikit gangguan pada aktivitas harian mereka.
“Nah, itu kan juga merupakan pendapatan desa/ kalurahan, rata-rata ada yang 30 juta, ada yang 100 juta. Nah, kalau di (Tebing) Breksi ini berapa miliar itu jadinya kas desa. Kalau memberi Rp10 juta hari ini sebagai wujud tanda terima kasih kan tidak masalah, jadi tidak ada yang merasa keberatan,” katanya.
Gandang menambahkan kegiatan semacam ini baru pertama diadakan. (AGT/D-01)








