
KOTA Bandung merupakan kota yang terbuka bagi mereka yang ingin datang untuk bekerja, belajar, maupun memulai usaha. Yang penting tertib administrasi kependudukan bagi para pendatang yang ingin menetap di Kota Bandung.
Demikian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. “Setelah mudik Lebaran biasanya banyak warga yang kembali ke Bandung bersama kerabat atau keluarga dari kampung halaman. Ini tidak masalah selama mereka memiliki niat jelas serta melengkapi administrasi kependudukan,” ucap Farhan seusai melepas program Mudik Aman Bersama PT Bio Farma, Jumat.
Menurut Farhan, Kota Bandung terbuka. Namun para pendatang sebaiknya segera mengurus perpindahan administrasi kependudukan, termasuk mengganti KTP menjadi KTP Kota Bandung. Jadi waktu berangkat pastikan sudah membawa surat pindah agar administrasinya jelas.
Kemudahan akses
“Dengan kepemilikan KTP Bandung akan memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai layanan publik yang disediakan pemerintah daerah, mulai dari peluang pekerjaan hingga akses pendidikan, termasuk peluang mendapatkan kursi pendidikan di perguruan tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Farhan berpendapat, kepemilikan KTP Bandung dapat mempermudah masyarakat yang ingin memulai usaha di Kota Bandung, termasuk dalam memperoleh rekomendasi kredit atau akses pembiayaan usaha.
Ia juga mengingatkan agar para pendatang datang ke Bandung dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar mencoba peruntungan tanpa rencana yang matang.
“Jangan cuma datang ke Bandung, numpang di rumah saudara seminggu dua minggu, lalu sebulan tidak jelas kegiatannya. Kalau memang ingin bekerja atau sekolah di Bandung, pastikan administrasinya lengkap,” tandasnya.
Pendataan penduduk
Farhan meminta para camat dan aparatur kewilayahan untuk memastikan pendataan penduduk berjalan dengan baik sehingga mobilitas masyarakat yang datang ke Kota Bandung dapat tercatat dengan tertib.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyambut baik masyarakat dari luar daerah selama mereka mematuhi aturan administrasi yang berlaku.
“Saya husnuzon bahwa yang datang dari luar kota kembali ke Kota Bandung semuanya orang baik. Maka kami akan terima dengan baik. Sekali lagi penekanannya, administrasi kependudukan harus rapi,” imbuhnya.
Tradisi sarat makna
Direktur Human Capital PT Bio Farma Dwiana Kusuma Wardhani mengatakan mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi merupakan tradisi penting yang sarat makna bagi masyarakat Indonesia.
Mudik adalah momen yang sangat berarti untuk kembali berkumpul dengan keluarga dan mempererat silaturahmi. Karena itu, memastikan perjalanan mudik berlangsung aman dan nyaman menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, BUMN dan seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui transportasi massal yang lebih terorganisir, kami berharap para peserta dapat sampai di kampung halaman dengan selamat, sekaligus membantu mengurangi kepadatan lalu lintas dan risiko kecelakaan di jalan,” tambahnya.
Dwiana menjelaskan, bagi perusahaan partisipasi dalam program ini merupakan bagian dari komitmen dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prioritas keluarga kurang mampu
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017, program mudik gratis Bio Farma telah memberangkatkan lebih dari 6.350 peserta.
Tahun ini, Bio Farma memberikan perhatian khusus kepada masyarakat dari kelompok ekonomi kurang mampu, dengan memprioritaskan peserta yang memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu, Kartu Keluarga Sejahtera, Program Keluarga Harapan, maupun kartu perlindungan sosial lainnya.
“Tahun ini tercatat 825 orang mendaftar untuk mengikuti program mudik gratis Bio Farma. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 505 peserta dinyatakan memenuhi persyaratan dan
diberangkatkan menuju berbagai kota tujuan di Pulau Jawa,” paparnya.
Para peserta berasal dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Kota Bandung, tetapi juga dari Bekasi, Cianjur, Garut, Sumedang, serta sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Adapun rute perjalanan mencakup berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Yogyakarta, Wonogiri, hingga Surabaya. (zahra/M-01)






