
EPOS Mahabarata dalam perang Bharatayudha secara umum memang mengisahkan perang antara Kurawa dan Pandawa. Namun ada salah satu bab dalam mahakarya itu yang mengisahkan seorang kesatria di pihak Kurawa bernama Adipati Karna.
Dikisahkan bahwa Karna sebelumnya dikenal sebagai anak seorang kusir delman. Namun karena kedigdayaannya, Karna lalu diangkat sebagai bangsawan dan bahkan dijadikan ‘saudara’ oleh Duryudana.
Motif Duryudana adalah jelas untuk menjadikan Karna sebagai perisai hidup Kurawa, penjaga, dan sekaligus lawan untuk Arjuna. Ironisnya saat perang sudah di depan mata, Karna baru menyadari bahwa Arjuna dan keempat saudaranya, Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa adalah adik kandungnya sendiri.
Sebab dia sejatinya adalah anak tertua dari Dewi Kunti yang terpaksa dibuang karena saat mengandung bayi Karna, sang dewi masih berstatus perawan.
Buah Simalakama

Kebimbangan pun sempat menyelimuti Karna. Seperti simalakama, dia harus memilih antara baku bunuh dengan adik-adik sendiri atau harus mengingkari janji yang berarti menjadi seorang pengkhianat.
Sebagai laki-laki sejati, Karna akhirnya memutuskan untuk tetap berpegang teguh pada janji. Ia pun memutuskan untuk berperang di pihak Kurawa sampai mati.
Situasi itulah yang sedikit banyak dialami megabintang Argentina, Lionel Messi, jelang pertandingan final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol yang akan digelar pada Senin (20/7) pukul 02.00 WIB di New York New Jersey Stadium.
Betapa tidak? Messi harus menghadapi ‘adik-adik’ sendiri di La Masia–akademi Barcelona. Pasalnya, para pemain Spanyol saat ini sebagian besar merupakan junior Messi semasa di Barca.
Bukan tidak mungkin, Messi pernah menurunkan ilmunya pada mereka. Dan bukan tidak mungkin juga jika di antara mereka ada yang mengidolakan Messi mengingat torehan prestasinya semasa membela Braugana.
Kental Barcelona

Untuk diketahui timnas Spanyoal saat ini banyak diperkuat pemain Barcelona. Tercatat ada delapan Barca yang menjadi nyawa La Furia Roja. Mereka adalah Lamine Yamal, Pedri, Gavi, Dani Olmo, Ferran Torres, Eric Garcia, Pau Cubarsí, dan Joan García. Lamine Yamal, Pedri, Gavi, dan Pau Cubarsí bahka disebut memiliki darah murni La Masia.
Dengan melihat kondisi itu tidak berlebihan sepertinya jika La Pulga seperti Karna yang terpaksa harus menghadapi ‘adik- adiknya’. Bahkan meski dia bukan lagi bagian dari Blaugrana.
Pertanyaannya adalah akankah Messi berakhir tragis seperti Karna yang tewas di Kurusetra atau atau justru dia akan mengajarkan lagi ‘adik-adiknya’ bagaimana seni berperang di lapangan hijau untuk terakhir kalinya?
Sebagai kesatria, Messi juga ingin juara. Apalagi jika sukses membawa Albiceleste juara, mereka akan menyamai torehan empat bintang milik Jerman dan Italia.
Puji Spanyol
Messi sendiri tidak sungkan memuji Spanyol. Sebab selain diisi banyak pemain hebat juga, Spanyol juga punya konsistensi permainan.
“Spanyol merupakan tim besar yang berisi para pemain fantastis dan gaya bermain yang hebat. Sebuah tim yang saya kenal baik, dengan filosofi bermain yang telah diterapkan selama bertahun-tahun,” puji Messi.
“Saya kenal para pemain mereka. Saya bahkan mengikuti mereka, karena beberapa di antaranya adalah pemain Barca, tim yang saya cintai. Saya pikir itu akan pertandingan yang spesial,” kata Messi yang pernah dikabarkan pernah ditawari untuk membela timnas Spanyol di masa lalu. (N-01)








