
DIREKTORAT Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggelar Wisuda Sekolah Lansia Standar 1 EduSia UII Maharani pada Selasa
Tercatat sebanyak 31 warga Kota Yogyakarta yang mengikuti prosesi wisuda yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Kedokteran UII di Kampus Terpadu Jalan Kaliurang KM 14 Sleman.
Wisuda itu merupakan puncak pelaksanaan Sekolah Lansia Standar 1, sebuah program pemberdayaan lansia berbasis masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi antara UII, BKKBN DIY, dan DPA3P2KB Kota Yogyakarta. EduSia UII Maharani berlokasi di Kampung Basen, Kalurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta.
Ketua Tim EduSia UII dr. Riana Rahmawati mengatakan program edukatif ini mengusung konsep Lansi SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Bermartabat). “EduSia UII merupakan sekolah lansia berbasis perguruan tinggi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, dan mempersiapkan lansia agar tetap sehat secara fisik, mental, dan aktif berpartisipasi di keluarga maupun masyarakat,” kata Ketua Tim EduSia UII, dr. Riana Rahmawati, PhD.
Belajar aspek kehidupan lansia

Menurut dia selama mengikuti Sekolah Lansia Standar 1 warga yang berusia lanjut ini belajar berbagai materi yang mencakup aspek-aspek kehidupan lansia antara lain proses menua yang sehat, pengelolaan penyakit kronis, gizi, aktivitas fisik, pencegahan jatuh, kesehatan mental, spiritualitas, pengenalan konsep 7 lansia tangguh, bahkan termasuk pula literasi digital.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja Retnaningtyas pada kesempatan itu megemukakan, minat kalangan lanjut usia di Kota Yogyakarta, cukup tinggi.
Namun diakui, sejauh ini jumlah lembaga yang menyelenggarakan sekolah lansia ini relatif masih sedikit sehingga ribuan lansia harus masuk daftar tunggu untuk bisa memperoleh kesempatan mengikuti sekolah lansia.
“Tingginya animo masyarakat menunjukkan sekolah lansia telah menjadi program yang diminati sekaligus dinilai bermanfaat bagi warga lanjut usia,” kata Retnaningtyas.
Kota Yogyakarta, ujarnya saat ini memiliki 15 sekolah lansia, namun kapasitasnya belum mampu mengakomodasi seluruh peminat. “Saat ini di Kota Yogyakarta sudah berdiri 15 sekolah lansia dengan ribuan daftar tunggu. Bahkan ada yang sudah ikut mengantre mendaftar tapi usianya belum genap 60 tahun, sehingga terpaksa masuk daftar tunggu terlebih dahulu. Daftar tunggunya masih sangat panjang,” ujarnya Selasa.
Keterbatasan anggaran
Dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta, baru 15 kelurahan yang memiliki sekolah lansia sehingga masih banyak wilayah yang belum terlayani.
Sementara untuk meningkatkan jumlah sekolah lansia, masih terkendala dengan keterbatasan anggaran. Karena itu, ujarnya, Pemkot Yogyakarta menyambut gembira jika perguruan tinggi ikut terjun menyelenggarakan sekolah lansia.
“Pemerintah Kota Yogyakarta menilai pengembangan program akan berjalan lambat apabila hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang saat ini tengah mengalami efisiensi.” imbuhnya.
Penduduk lansia di Kota Yogyakarta sekarang sudah mencapai angka 16 persen dari total populasi, dengan rata-rata usia harapan hidup mencapai 75 tahun dengan usia harapan hidup perempuan 78 tahun, sedangkan laki-laki mencapai 76 tahun.
Skrining kesehatan
“Jadi yang bapak-bapak atau sing kakung-kakung ini harus terus dimotivasi di rumah, kok usianya lebih cepat yang kakung daripada yang putri,” kelakarnya.
Program EduSia tidak hanya mengandalkan pembelajaran di dalam kelas. Peserta juga mengikuti berbagai skrining kesehatan sebagai bagian dari deteksi dini dan pemantauan kondisi fisik selama mengikuti pendidikan.
Metode pembelajaran disusun secara interaktif melalui ceramah, diskusi, praktik langsung, dan aktivitas kelompok sehingga materi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (AGT/A-01)







