
SELAMA perayaan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi, sekitar 3 miliar perjalanan terjadi di seluruh Tiongkok dalam satu musim liburan. Lonjakan mobilitas ini merupakan bagian dari fenomena Chunyun, periode arus mudik tahunan yang mengiringi Imlek dan dikenal sebagai migrasi manusia terbesar di dunia.
Besarnya angka tersebut bukan hanya mencerminkan tantangan logistik yang luar biasa, tetapi juga kuatnya tradisi budaya Tiongkok yang menempatkan reuni keluarga dan penghormatan kepada leluhur sebagai inti perayaan.
Angka 3 miliar itu bukan terjadi dalam satu hari, melainkan akumulasi selama sekitar 40 hari masa Chunyun yaitu 15 hari sebelum malam Tahun Baru Imlek dan 25 hari setelahnya.
Berdasarkan data Kementerian Transportasi Tiongkok, jumlah perjalanan tersebut relatif stabil dalam satu dekade terakhir, meskipun sempat dipengaruhi dinamika ekonomi, urbanisasi, hingga kebijakan kesehatan publik.
Fenomena Chunyun musim Imlek
Dilansir dari Alibaba, sebagai perbandingan, total 3 miliar perjalanan hampir setara dengan seluruh penduduk dunia melakukan satu kali perjalanan. Secara lebih realistis, angka itu menggambarkan hampir seluruh populasi Tiongkok, sekitar 1,4 miliar jiwa melakukan perjalanan pulang-pergi selama musim Imlek.
Lonjakan arus mudik ini berakar pada urbanisasi pesat dalam empat dekade terakhir. Ratusan juta warga berpindah dari desa ke kota untuk bekerja, kerap meninggalkan keluarga di kampung halaman. Imlek menjadi momentum terpenting untuk kembali berkumpul, menjalankan ritual penghormatan leluhur, serta menyantap makan malam reuni keluarga atau “Nian Ye Fan”.
Mayoritas pemudik adalah pekerja migran yang kembali dari kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen menuju daerah asal di perdesaan. Selain pekerja migran, mahasiswa, kalangan profesional, hingga warga Tiongkok yang tinggal di luar negeri turut menyumbang tingginya mobilitas selama periode ini.
Pergerakan penduduk dan urbanisasi
Pergerakan penduduk juga menunjukkan perbedaan signifikan antarwilayah. Provinsi dengan basis industri manufaktur besar seperti Guangdong, Zhejiang, dan Jiangsu menjadi pusat keberangkatan utama karena menjadi lokasi bekerja jutaan pekerja migran.
Sebaliknya, provinsi pedalaman seperti Henan, Sichuan, dan Anhui mengalami lonjakan kedatangan warga yang pulang kampung.
Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan turut memengaruhi pola perjalanan. Warga kota cenderung memanfaatkan libur panjang untuk berwisata domestik atau ke luar negeri, sementara masyarakat perdesaan lebih banyak mengandalkan bus dan kereta jarak jauh sebagai moda transportasi utama dalam tradisi mudik Imlek. (*/S-01)






